Qunutan, Ungkapan Syukur dan Kebersamaan Ramadan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Rasa syukur umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa pada bulan suci ramadan diisi dengan qunutan.

Tradisi qunutan masih dilestarikan umat muslim Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, dan Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan.

Tradisi qunutan atau kerap disebut kupatan dilestarikan sejak puluhan tahun silam. Hal tersebut diakui Nurkholis, ketua Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Miftahul Fallah.

Nurkholis, ketua Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Miftahul Fallah Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Nurkholis menyebut, awalnya qunutan kerap dibuat dengan menu ketupat sekaligus lauk pauk pelengkap. Sebagai bagian dari sedekah, ungkapan syukur pada malam ke-15 ramadan seluruh jamaah masjid Miftahul Fallah berkumpul.

Kegiatan tersebut diakuinya dilakukan usai salat tarawih digelar dan dilakukan di aula masjid setempat. Bekal makanan berupa ketupat serta makanan lain dimakan bersama, menumbuhkan rasa persaudaraan antarjamaah yang hadir.

Qunutan disebut Nurkholis menjadi rangkaian kegiatan pengisi bulan ramadan. Ada tiga kegiatan diantaranya punggahan yang dilakukan pada malam pertama ramadan, qunutan pada malam kelima belas dan selikuran pada malam kedua puluh satu.

Konsep yang dibuat diakui Nurkholis dilakukan dengan makan bersama sebagai ungkapan syukur masih bisa menjalankan ibadah puasa pada hari pertama, pekan kedua hingga pekan ketiga sebelum hari raya Idul Fitri.

“Selain sebagai ungkapan syiar agama beberapa acara memiliki makna mendalam untuk meningkatkan kebersamaan sekaligus rasa syukur kepada Allah. Kami sebagai umat Muslim masih bisa menjalankan ibadah puasa ramadan,” terang Nurkholis saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (20/5/2019) malam.

Khazanah kegiatan qunutan diakui Nurkholis juga berkaitan dengan mendekati Nuzulul Quran. Nuzulul Quran disebutnya merupakan malam diturunkannya Alquran yang diperingati setiap 17 Ramadan.

Sepanjang ramadan kesempatan untuk memperdalam ilmu agama sekaligus katam Alquran menjadi kesempatan yang bisa dipergunakan sebaik-baiknya. Sepanjang bulan ramadan setiap masjid bahkan melakukan kegiatan rutin tadarusan.

Selain bagi orang dewasa, malam qunutan sekaligus mengajarkan bagi anak-anak untuk bisa mengikuti tarawih. Beberapa waktu yang dijalani sejak malam pertama ramadan hingga malam ke-15 menjadi makna yang harus disyukuri.

Kegiatan makan bersama disebut Nurkholis hanya menjadi bagian dari perekat kebersamaan. Sebab momen berbagi diperlihatkan juga saat jamaah membawa makanan dari rumah dan disantap bersama jamaah lain dalam suasana keakraban.

Makna qunutan bagi jamaah di masjid Miftahul Fallah juga diungkapkan oleh Mahmud Toha. Sebagai tokoh agama dan toloh masyarakat, ia menyebut malam qunutan menjadi simbol rasa syukur.

Rasa syukur tersebut diungkapkan dengan sedekah diwujudkan melalui membawa makanan. Ia menyebut puasa merupakan wujud ketaatan dimana manusia menahan lapar dan dahaga. Melalui sedekah dalam wujud uang dari malam pertama hingga malam berikutnya, sebagian bisa dipergunakan untuk fasilitas masjid.

“Harapan kita agar dengan sedekah Allah akan melipatgandakan rezeki sekaligus mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuat,” beber Mahmud Toha.

Tradisi punggahan, qunutan hingga selikuran diakui Mahmud Toha masih tetap dipertahankan. Sebab waktu tersebut menjadi pengingat rasa syukur masih diberi umur panjang menjalani puasa.

Melalui ramadan jamaah juga diajak untuk memohon ampun agar kembali fitri dan suci sama seperti bayi yang baru dilahirkan.

Selain di masjid Miftahul Fallah, tradisi qunutan juga dilestarikan di Masjid Nurul Janah Desa Bandar Agung.

Susilo (paling kiri) saat acara qunutan di Masjid Nurul Jannah Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Susilo, salah satu jamaah saat dikonfirmasi menyebut, qunutan masih dijalankan oleh masjid tersebut. Sama seperti di masjid lain kegiatan tersebut diakui Susilo menjadi malam syukur karena ibadah puasa sudah dijalani hingga setengah bulan.

Harapan untuk tetap bisa menjalankan ibadah puasa hingga Idul Fitri menjadi pengingat saat malam qunutan. Setelah malam qunutan umat muslim masih harus menjalani setengah bulan hingga hari kemenangan Idul Fitri.

Lihat juga...