hut

Ramadan Beri Peluang Warga Lampung Selatan Berusaha di Jalinsum

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Ramadan dimanfaatkan masyarakat di Lampung Selatan untuk berdagang. Sejumlah kebutuhan meliputi barang konsumsi, pakaian, aksesori dijual di sejumlah titik strategis.

Tingginya permintaan, menjadi pendorong warga untuk mencoba mendapatkan peruntungan dengan berdagang. Salah satu yang menjadi pilihan untuk berdagang adalah, tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang strategis karena berada di pertemuan dengan Jalan Lintas Timur (Jalinpantim).

Sahrul (50), warga Desa Negeri Pandan, Kecamatan Kalianda, memilih kawasan Bakauheni untuk berjualan karena ramai baik pagi dan sore hari. Lokasi berdagangnya berada di Kilometer satu Bakauheni, dekat pelabuhan dan pasar.

Sahrul menjual sejumlah peralatan rumah tangga berbahan baku rotan, sejak awal Ramadan lalu. Barang fungsional seperti tas, nampan, ayunan bayi, tudung saji, keranjang baju hingga vas bunga dijualnya. Kerajinan tangan berbahan rotan tersebut diambil dari distributor lalu dijual eceran.

Berjualan di tepi Jalinsum, membuat Sahrul tidak harus menyewa lapak. Lokasi yang digunakan juga cukup luas, sekaligus teduh karena tepat berada di bawah pohon ketapang. Selain Dirinya, ada puluhan pedagang musiman dengan berbagai dagangan mencari rezeki di tempat tersebut.

Ada yang berjualan pakaian, sop durian, oleh-oleh, hingga buah segar. Sahrul, menjual kerajinan berbahan rotan karena di tahun sebelumnya tren penjualan kerajinan tangan rotan meningkat setiap mendekati lebaran. “Kerajinan rotan ini hasil karya perajin asal Natar. Sebagian didatangkan dari luar daerah, jelang lebaran permintaan meningkat terutama untuk barang kebutuhan kelengkapan rumah tangga,” terang Sahrul saat ditemui Cendana News, Selasa (21/5/2019).

Konsumen yang didominasi ibu rumah tangga, membeli nampan, vas bunga, keranjang buah, keranjang pakaian serta ayunan bayi. Keranjang buah dan vas bunga yang berbentuk artistik, dipergunakan untuk hiasan ruang tamu. Kerajinan berbahan rotan tersebut dijual dengan harga bervariasi, antara Rp50.000 hingga Rp400.000. Vas bunga, nampan, keranjang buah dijual mulai harga Rp50.000. Tudung saji dijual seharga Rp150.000, keranjang pakaian Rp200.000, permainan kuda bagi anak anak Rp250.000 dan ayunan bayi dijual Rp400.000.

“Saya pernah memiliki konsumen sejak lima tahun lalu membeli mainan kuda dari rotan masih awet bisa dipakai untuk anak berikutnya, dibandingkan mainan plastik secara ekonomis lebih tahan lama,” beber Sahrul.

Selama lima tahun lebih berjualan kerajinan rotan, Sahrul memanfaatkan toko di rumahnya. Toko di rumah dijaga oleh sang istri, sementara Dia berkeliling menggunakan mobil untuk berjualan di sejumlah kecamatan.

Sahroni, memanfaatkan bulan suci ramadan untuk berjualan kue kering dan buah buahan – Foto Henk Widi

Sehari bisa memperoleh omzet Rp1juta lebih dengan berkeliling ke perkampungan warga. Selama dua pekan Ramadan, Dia menyebut baru menjual puluhan perlengkapan berbahan rotan. Pembelian kerap meningkat satu pekan sebelum lebaran Idul Fitri.

Selain Sahrul, tepat di sebelah lokasi berjualannya, pedagang buah segar dan oleh-oleh. Sahroni, warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang berjualan buah segar seperti apel, jeruk, nanas, semangka, melon, kurma dan buah segar lain dengan mobil. Selama Ramadan Dia juga menjual oleh-oleh khas Lampung seperti keripik dan kerupuk kemplang. Oleh-oleh tersebut diminati pemudik yang akan menuju ke Jawa.

Sahroni menyebut, selama Rramadan pelaku usaha kecil memanfaatkan waktu dengan berjualan di sekitar Jalinsum. Sepekan sebelum arus mudik lebaran, pelaku usaha musiman akan menjamur di tempat tersebut. Selain berdagang oleh-oleh, penyedia jasa tambah angin, tambal ban hingga jasa ojek juga mencoba peruntungan di tempat tersebut. Lokasi yang strategis, karena sering dipilih menjadi tempat istirahat, juga dipilih warga untuk berjualan dan menyediakan jasa.

Lihat juga...