hut

Ramadan, Ponpes Miftahul Huda Ajak Santri Perdalam Akidah Islamiyah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Berbagai kegiatan dilakukan oleh lembaga pendidikan mengisi bulan suci ramadan dengan kegiatan memperdalam ilmu agama.

Salah satu kegiatan dilakukan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda 1040 di Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel).

Ustaz Yayan Daryani, kepala Ponpes Miftahul Huda menyebut, selain kegiatan rutin harian, sejumlah kegiatan memperdalam nilai-nilai Islami juga dilakukan.

Ustaz Yayan Daryani, kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda 1040 Desa Hatta, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Kegiatan memperdalam ilmu agama Islam disebut Ustaz Yayan Daryani dilakukan dalam rangkaian kegiatan pesantren kilat serta pengisi waktu luang para santri.

Salah satu materi yang diberikan diantaranya kajian kitab Aqidah Islamiyah dan kitab Safinah. Waktu untuk memperdalam dua kitab tersebut diantaranya setelah salat tarawih berjamaah, witir langsung dilanjutkan dengan kajian kitab fikih dan kitab safinah.

Pada kitab Akidah Islamiyah ia menyebut, banyak pegangan yang bisa diterapkan oleh para santri. Sebab selain pelajaran utama tentang tauhid, diajarkan tentang akidah yang benar. Apalagi pada zaman modern ajaran ajaran musyrik dan tidak sehat muncul melalui televisi, film dan media elektronik lain.

Sebagai benteng pertahanan umat Islam khususnya dalam dunia pendidikan, kajian di pesantren tersebut menjadi pedoman sekaligus ajaran yang harus diamalkan.

“Mendalami kitab Akidah Islamiyah bisa menjadi pegangan, wawasan dalam upaya mempertahankan akidah umat Islam sejak dini melalui para santri yang menjadi generasi penerus umat Islami,” ujar ustaz Yayan Daryani, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (23/5/2019).

Kitab yang ditulis oleh KH. Choer Affandi sebagai sesepuh pondok pesantren Miftahul Huda sangat dianjurkan untuk dibaca dan dihapalkan. Sebab melalui kitab tersebut para santri bisa menjalankan akidah yang benar sesuai garis agama yang telah ditetapkan dalam Alquran dan Hadis dan bisa membantah akidah yang tidak sesuai ajaran Islam.

Melalui kitab tersebut bisa menjadi jalan untuk kemudahan dalam mendapatkan iman dan amal yang benar.

Selain kitab Akidah Islamiyah para santri sepanjang bulan Ramadan juga diminta memperdalam kitab Safinah. Kitab safinah disebut ustaz Yayan Daryani kerap disebut lengkap ”Safinatun Najah Fiima Yajibu ‘ala Abdi li Maulah” atau perahu keselamatan di dalam mempelajari kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya.

Mempelajari kitab safinah disebut ustaz Yayan Daryani sangat penting bahkan wajib dibaca oleh para santri selama ramadan karena mengajarkan pokok-pokok agama. Terlebih sebagian santri merupakan anak-anak muda yang masih harus banyak belajar.

Meski tidak bisa diselesaikan selama satu bulan namun beberapa bab akan dibaca dan dipahami untuk kehidupan sehari- hari. Secara garis besar kitab safinah menjadi pijakan bagi pemula dalam mempelajari ilmu agama.

Sesuai dengan namanya kitab safinah bisa menjadi ajaran untuk menyelamatkan pembaca dari kebodohan dan kesalahan dalam beribadah kepada Allah SWT. Kitab tersebut menjadi pedoman bagi santri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dibarengi dengan memperdalam Alquran selama bulan Ramadan.

Ustaz Yayan Daryani menyebut Yayasan Ponpes Miftahul Huda 1040 sudah berdiri sejak tahun 2000 silam. Ratusan santri diakuinya sudah lulus dan kembali ke masyarakat. Selain diberi bekal ilmu keagamaan para santri putra dan putri juga diajari kemandirian bidang pertanian, kewirausahaan serta perikanan.

Sebagai satu di antara 20 ponpes yang ada di Lamsel di bawah naungan Yayasan Miftahul Huda, setiap tiga bulan sekali dilakukan pertemuan dengan para alumni yang pernah menjadi santri di sejumlah pesantren tersebut.

Hingga kini sebanyak 101 santri masih belajar di ponpes Miftahul Huda yang dipimpinnya. Selain sebagian menetap di asrama para santri tingkat madrasah diniyah tersebut merupakan anak-anak usia sekolah yang tinggal bersama para orangtua di Desa Hatta.

Total ada sebanyak 25 orang santri putra dan putri yang menetap di asrama. Para santri disebutnya berasal dari Kabupaten Pesawaran, Palembang dan sejumlah kecamatan di Lamsel.

“Para santri yang tinggal di asrama nanti akan pulang kampung pada tanggal 25 Mei agar bisa merayakan Idul fitri bersama keluarga,” paparnya.

Salah satu santri Ponpes Miftahul Huda bernama Angga asal Ketapang, Lamsel menyebut sudah dua tahun tinggal di pesantren. Bersama puluhan santri yang menetap di asrama ia menyebut bulan suci ramadan diisi dengan kegiatan positif.

Kegiatan tersebut diakuinya meliputi khataman Alquran, memperdalam kitab Akidah Islamiyah dan kitab Safinah. Kegiatan menghapal (muhafadzah), mengulang (Muthola’ah) menjadi cara untuk memperdalam ilmu agama.

“Para santri selama bulan ramadan juga memperdalam kitab kuning serta khataman Alquran,” bebernya.

Suraida (tengah) santri putri yang belajar kitab Safinah mengisi waktu luang – Foto: Henk Widi

Sementara Suraida, salah satu santri asal Desa Sumur menyebut, bagi para santri wanita mengisi bulan ramadan dengan kegiatan positif.

Selain melakukan kegiatan rutin harian sebagian santri wanita juga memperdalam kitab akidah Islamiyah, kitab Safinah. Kegiatan khataman Alquran dan membaca sejumlah kitab juga dilakukan usai melakukan salat tarawih berjamaah.

Pada kegiatan waktu luang sebagian santri wanita juga belajar membuat kue-kue kering dan menu hidangan berbuka puasa bagi santri.

Lihat juga...