Regenerasi Tanaman Baru, Solusi Cegah Penggundulan Lahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kebutuhan akan kayu hasil penanaman pohon di Lampung Selatan (Lamsel) terus meningkat. Kondisi tersebut diakui oleh Abdul Munip, salah satu pemilik usaha pengetaman kayu atau dikenal dengan panglong di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan.

Ia menyebut permintaan tinggi akan kayu didominasi kayu untuk bahan bangunan, perabotan rumah tangga serta palet untuk pengemasan barang paket. Selama ramadan ia bahkan menyebut permintaan kayu bahan palet meningkat dua kali lipat.

Permintaan akan kayu palet diakui Abdul Munip disebabkan faktor kebutuhan untuk sejumlah keperluan. Pengiriman kebutuhan jenis telur, buah, barang kiriman paket perusahaan ekspedisi ikut membuat kebutuhan kayu bertambah.

Pada kondisi normal kebutuhan kayu disebutnya mencapai 50 kubik per pekan dan kini meningkat menjadi 100 kubik per pekan. Jenis kayu yang dominan diminta adalah kayu sengon, akasia, jati ambon, bayur serta medang.

Permintaan kayu diakui Abdul Munip berpotensi mengakibatkan penggundulan lahan yang ditanami pohon. Meski sebagian kayu yang ditebang merupakan kayu budidaya sebagian merupakan pohon yang tumbuh secara alami di perkebunan warga.

Pola penanaman pohon dengan sistem multi purpose tree system (MPTS) bahkan dilakukan bersama dengan jenis tanaman produktif diantaranya tanaman buah buahan. Sejumlah pohon kayu menurutnya dipanen dengan sistem tebang pilih menyesuaikan ukuran dan usia.

Pengumpulan kayu yang sudah diolah untuk dikirim ke pemesan – Foto: Henk Widi

“Sebagian pemilik usaha pengetaman atau jual beli kayu umumnya sudah memiliki kebun khusus untuk penanaman pohon jenis sengon, jati ambon dengan sistem sewa lahan dan sebagian ditanam dengan sistem pengaturan waktu tanam,” terang Abdul Munip saat ditemui Cendana News di lokasi pengetaman, Rabu (22/5/2019).

Pada lahan seluas dua hektare Abdul Munip bahkan menyebut menanam sekitar ratusan pohon sengon serta jati ambon. Tanaman tersebut merupakan jenis tanaman yang bisa cepat dipanen dalam waktu 4 hingga 5 tahun.

Sebagian tanaman pohon tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan lahan yang semula merupakan lahan tidur. Sejumlah lahan tidur yang sebagian tidak dimanfaatkan oleh pemilik bahkan disewa untuk menanam pohon dengan sistem bagi hasil.

Benih pohon yang ditanam berupa sengon, jati ambon sebagian dibeli dari pemilik usaha pembibitan. Sebagian bibit bahkan diperoleh dari Persemaian Permanen di bawah Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Desa Karangsari,Kecamatan Ketapang.

Proses penanaman yang mudah sekaligus usia yang pendek dibanding pohon lain membuat jenis pohon tersebut dominan ditanam.

“Pemilik usaha pengetaman juga melakukan upaya reboisasi pada sejumlah lahan tidur milik masyarakat yang banyak dibutuhkan,” beber Abdul Munip.

Permintaan yang tinggi akan kayu jenis sengon, medang dan jati ambon diakuinya sekaligus dengan permintaan untuk furnitur. Satu bulan sebelum hari raya Idul Fitri ia menyebut kayu untuk furnitur banyak diminta untuk pembuatan meja, kursi.

Furnitur baru tersebut banyak diminta oleh masyarakat yang menginginkan perabotan rumah tangga baru. Meski permintaan tidak banyak namun kebutuhan kayu tersebut ikut mempengaruhi tingkat penebangan kayu.

Meski demikian pola penebangan dilakukan dengan pemilihan kayu yang sudah memasuki usia panen.

Penanaman pohon dengan pola pengaturan masa panen juga diakui oleh Wongso, warga Totoharjo Kecamatan Bakauheni. Petani pemilik lahan kebun di kaki Gunung Rajabasa tersebut mengaku menanam ratusan pohon sengon.

Wongso, salah satu petani di Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan memanfaatkan lahan untuk menanam sengon – Foto: Henk Widi

Pohon sengon tersebut sebagian digunakan untuk kebutuhan bahan bangunan. Sebagian dijual kepada pengetam kayu untuk bahan papan, palet serta balok. Sebelum ramadan ia menyebut permintaan mencapai puluhan kubik.

“Tanaman kayu saya gunakan sebagai tabungan saat membutuhkan uang bisa saya jual atau untuk bahan bangunan bagi keluarga,” beber Wongso.

Wongso menyebut penanaman kayu sengon dengan bibit gratis bisa dipergunakan sebagai investasi. Sebagian tanaman tersebut dipergunakan untuk pembuatan bangunan rumah sang anak sebagian dijual untuk kebutuhan.

Meski dilakukan penebangan ia memastikan pola tebang pilih dilakukan agar tidak terjadi kerusakan pada lahan. Penebangan dengan sistem tebang pilih disebutnya sekaligus memberi kesempatan pohon lain tumbuh dengan sempurna.

Beberapa pohon bahkan diakuinya sengaja dibiarkan sebagai tanaman penahan longsor yang tidak ditebang meski sudah berusia belasan tahun.

Lihat juga...