hut

Rektor Unsoed Ini Dua Kali Raih Beasiswa Supersemar

Editor: Mahadeva

 Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Dr. Ir. Suwarto MS. (FOTO : Hermiana E.Effendi)

PURWOKERTO – Beasiswa Supersemar banyak dirasakan manfaatnya oleh berbagai kalangan. Termasuk  Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Dr. Ir. Suwarto MS.

Rektor Unsoed tersebut, sampai dua kali mendapatkan beasiswa yang sudah diberikan sejak era Presiden Soeharto tersebut. “Beasiswa Supersemar itu sangat membantu pelajar dan mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, seperti saya yang sampai dua kali mendapatkan beasiswa Supersemar, sehingga bisa menyelesaikan kuliah S1 dan S2 dan berkarir sampai seperti sekarang ini,” tutur Prof Suwarto, dalam perbincangan dengan Cendananews, Senin (6/5/2019).

Beasiswa Supersemar pertama diperoleh Prof Suwarto di tahun kedua kuliah di Jurusan Pertanian Unsoed. Ia masih mengingat betul, setiap bulan mendapat transferan uang Rp25.000. Dan kiriman uang  tersebut selalu ditunggu-tunggu. “Waktu itu dapat Rp25.000 per-bulan, selama empat tahun. Saya pernah gunakan untuk beli celana jeans, harganya Rp6.000,” kenangnya.

Beasiswa tersebut diperoleh Prof Suwarto bukan tanpa perjuangan. Ia termasuk mahasiswa yang pandai dan berprestasi, serta berasal dari kalangan tidak mampu. Studi S1 di Unsoed bisa selesai berkat bantuan beasiswa tersebut. Beasiswa Supersemar kedua, diterima Prof Suwarto ketika menempuh pendidikan S2 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Kala itu, Prof Suwarto juga mengambil jurusan Pertanian.

Prof Suwarto menyebut, banyak hal yang dirindukan masyarakat kepada sosok Presiden Soeharto. Antara lain, kondisi keamanan, perekonomian yang stabil, serta perencanaan arah pembangunan negara yang jelas, terukur dan tersusun dengan baik.

Presiden Soeharto, juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas. Pada masa kepemimpinannya, karir pegawai sangat jelas. Setiap menunjuk menteri-menteri di kabinetnya, nama-nama yang ditunjuk sudah tidak asing bagi masyarakat.

Masyarakat juga sudah mengetahui kapasitas serta kemampuan dari sosok menteri tersebut. “Perencanaan pembangunan sangat jelas dan terarah, ada Repelita, Pelita dan sebagainya. Kondusifitas juga sangat terjaga, berbeda dengan sekarang dimana banyak aksi unjuk rasa yang mengarah pada anarkis, orang mau melintas di dekat lokasi demo saja takut. Dulu jaman Pak Harto tidak ada hal seperti itu,” terangnya.

Prof Suwarto menjelaskan, pemimpin harus bisa mengendalikan rakyat. Ia mencontohkan, Malaysia dan Singapura bisa maju karena kepemimpinan yang kuat. Pemimpin di negara tersebut bisa mengendalikan rakyatnya, meskipun harus dengan sedikit represif. Prof Suwarto menyatakan sepakat dengan kebebasan berdemokrasi, namun tidak boleh kebablasan. Hal tersebut bisa memuncullan budaya saling menghina, seperti menghina presiden, menghina pejabat, yang terkesan bebas dilakukan.

Kondusifitas yang terjaga dengan baik, berdampak pada kestabilan ekonomi. Semasa pemerintahan Presiden Soeharto, harga-harga terjaga dengan baik, ekonomi stabil, meskipun harus dibayar dengan banyaknya subsidi yang dikeluarkan negara untuk rakyat.

“Saya pernah sekali bertemu Pak Harto dalam satu forum di Jakarta, pada saat itu saya baru awal menjadi dosen. Ia sosok yang sangat kebapakan, mengayomi dan kharismanya kuat. Jadi kalau sekarang banyak bermunculan slogan-slogan, Enak Jamanku To? yang disertai foto Pak Harto, itu memang satu bentuk kerinduan rakyat pada sosok beliau,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!