Sebagian Besar Komponen Pesawat Nir-Awak Masih Diimpor

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Belum adanya produsen komponen di dalam negri,  menjadi kendala utama pembuatan atau perakitan kendaraan tanpa awak (nir-awak).

Produsen kendaraan tanpa awak, harus mendatangkan 90 persen komponen seperti mesin, auto pilot, baling-baling pengendali, maupun komponen lain, dengan cara impor. Salah seorang produsen kendaraan nir-awak, Muhammad Arif (23), warga Mutihan, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, membenarkan hal tersebut.

Ia harus mendatangkan hampir semua komponen dari luar negri, karena belum ada produsen komponen di dalam negeri. “Memang di Indonesia belum ada produsen komponen pesawat aeromodelling. Apalagi untuk pesawat yang berfungsi sebagai alat pemetaan kawasan lewat udara. Jadi memang harus beli dari luar,” tandasnya, Selasa (7/5/2019).

Arif merangkai kendaraan nir-awak, seperti pesawat pemetaan udara, kapal pemetaan bawah air hingga drone alat pertanian, untuk dipasok ke perusahaan rekannya. Selain itu Dia juga menjual sendiri sejumlah alat tersebut ke instansi atau lembaga pemerintah, termasuk kepada perusahaan tambang atau perkebunan.

Salah satu alat yang dibuat Arif adalah kapal maping yang berfungsi untuk mengujur kedalaman air. Dilengkapi sistim autopilot, kapal dengan panjang 110 sentimeter (cm) x 45cm dan tinggi 40 cm tersebut, mampu beroperasi hingga jarak 25 kilometer.

Dibuat dengan batery Li-Po, kapal mampu bekerja selama 75 menit dengan kecepatan 9,62 kilometer (km) per-jam. “Kapal ini memakai penggerak dinamo motor. Kendalinya memakai sistem GPS sebagai navigasi yang dihubungkan ke laptop melalui sinyal radio. Harga satu unit nya berkisar Rp58 juta, dibuat dalam waktu dua Minggu,” tutur Arif.

Arif juga membuat pesawat tanpa awak jenis Potret 1300. Memiliki panjang sayap 1,3 meter (m), lebar 45 cm. Pesawat dilengkapi sistem autopilot tersebut memiliki kecepatan 43 hingga 54 km per-jam. Mampu beroperasi selama 30 hingga 40 menit, dengan jarak tempuh sejauh 40 km jalur terbang.

Cakupan pemetaan kawasan seluas 400 hektare. “Dengan bahan baku styrofoam, pesawat ini didesain knockdown sehinggga bisa dibongkar pasang. Dilengkapi kamera 20 MP, pesawat ini bisa digunakan untuk membuat peta dan pendataan kawasan, mensurvei lahan survei tambang hingga menghitung jumlah pohon sawit. Harganya sekitar Rp38juta dengan pengerjaan 10 hari,” jelasnya.

Selain kedua jenis tersebut, Arif sedang mengembangkan pesawat drone untuk penyemprotan pupuk cair atau pestisida di lahan pertanian. Drone dengan enam baling-baling, dan panjang satu meter dan tinggi 50 cm, mampu membawa tiga hingga empat liter cairan.

Pesawat dapat beroperasi selama 20 menit, dengan kecepatan 25 hingga 35 km per-jam. “Drone ini bisa menjangkau lahan seluas dua kali lapangan sepakbola. Sistemnya sudah autopilot dan memakai batrey listrik. Harganya sekitar Rp100 juta. Karena baru pengembangan, memang masih belum ada konsumen yang membeli,” tandasnya.

Lihat juga...