Tabur Puja Padang Diharapkan Layani Pengajuan Pinjaman Baru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Kondisi Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) sebagai unit usaha di Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang (Derami) Padang, Sumatera Barat, terbilang cukup bagus.

Tercatat formulir pinjaman di sejumlah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), sebagian besar berada di angka Rp5 juta.

Pengawas KSU Derami Padang, Zasmeli Suhaemi, mengatakan, posisi formulir pinjaman yang sebagian besar berada di angka Rp5 juta itu, ada sisi yang dilihat bahwa tidak ada kemajuan dari Tabur Puja. Meski banyak masyarakat yang telah berada di pinjaman tertinggi, namun akibatnya calon anggota baru tidak berkesempatan menikmati pinjaman modal usaha tanpa agunan tersebut.

Ia menyebutkan, tumbuh dengan baiknya Tabur Puja itu apabila terjadi pemerataan pinjaman kepada masyarakat yang diutamakan keluarga kurang mampu. Akan tetapi, bila pinjaman dibatasi bagi anggota baru, dan memilih untuk melayani anggota yang berada di pinjaman Rp5 juta, bukanlah sebuah kemajuan.

“Kalau yang saya lihat perkembangan Tabur Puja di Posdaya biasa saja. Bahkan ada beberapa Posdaya yang tutup pencairan Tabur Pujanya. Seharusnya kalau Tabur Puja tumbuh dengan baik, maka Posdayanya makin bagus, bukannya malah tutup,” katanya, Senin (27/5/2019).

Menurutnya, sudah seharusnya Tabur Puja melayani pengajuan pinjaman anggota yang baru, karena semakin banyaknya anggota baru yang mendapatkan pinjaman Tabur Puja, maka akan semakin banyak tumbuh usaha-usaha baru.

Namun bila hanya sekedar melayani pinjaman yang lama, tidak dapat menumbuhkembangkan usaha baru.

“Jadi perlu dilakukan inovasi untuk pengembangan Tabur Puja di Posdaya itu. Ya seperti tetap melayani pengajuan pinjaman yang baru. Kalau tidak begitu, maka Tabur Puja juga akan begitu saja,” ujarnya.

Emi menyatakan, terkait Tabur Puja yang masih melayani pinjaman Rp5 juta, Yayasan Damandiri telah menganjurkan agar masyarakat yang telah mendapatkan pinjaman Rp5 juta itu dialihkan kepada pihak perbankan.

Karena memang cukup banyak permintaan jumlah pinjaman bisa mencapai Rp10 juta. Namun di Tabur Puja tidak memenuhi permintaan dengan jumlah yang begitu besar.

“Di Tabur Puja akan sangat berisiko kalau melayani pinjaman Rp10 juta itu, karena kita memberikan pinjaman itu tanpa angunan. Jika pun diminta agunan juga tidak bagus. Maka bagi yang tetap ingin mendapatkan pinjaman Rp10 juta, bisa diajukan pihak perbankan saja,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua KSU Derami Padang, Sayu Putu Ratniati, mengakui, telah cukup lama dan cukup banyak masyarakat yang meminta agar Tabur Puja menyediakan pinjaman modal usaha hingga Rp10 juta.

Alasan masyarakat, pinjaman tertinggi yakni Rp5 juta agak sulit untuk mencukupi kebutuhan usaha yang dijalaninya, mengingat mahalnya harga barang-barang yang dibeli.

“Ada satu sisi kondisi itu menunjukkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di Padang dengan baik. Tapi di sisi lain, secara keuangan kita di KSU Derami tidak mencukupi permintaan itu. Selain itu cukup berisiko juga memberikan pinjaman modal usaha senilai Rp10 juta tersebut,” katanya.

Menurutnya, jumlah Rp10 juta dengan sasaran pinjaman adalah keluarga kurang mampu yang tengah mengembangkan usaha baru, maupun yang memulai usaha baru, sangat bersiko akan terjadi kredit macet.

Sebab melihat di pinjaman Rp5 juta saja yang merupakan nilai tertinggi di Tabur Puja yang mendapatkan pinjaman modal usaha, masih saja ada terjadi kredit macet di beberapa Posdaya yang menjadi pusat Tabur Puja dijalankan.

Ia menilai meski banyak permintaan terkait pinjaman Rp10 juta itu, sejauh ini respon yang diberikan semacam gambaran kondisi kredit macet yang terjadi. Artinya dengan memperlihatkan kondisi kredit macet, masyarakat dapat mengukur kekuatan ekonomi, sebelum mendapatkan pinjaman Rp10 juta.

“Di sisi lain pun kita tidak sanggup secara dana. Karena dari Yayasan Damandiri telah ditetapkan jumlahya yakni Rp3 miliar per tahun uang yang diputarkan untuk pinjaman modal usaha bagi masyarakat. Jika pun kita paksakan tetap memberikan pinjaman modal usaha sebanyak itu, sama saja bunuh diri,” ujarnya.

Ayu juga melihat pada lembaga keuangan lainnya, pinjaman dengan nilai Rp10 juta itu, haruslah memiliki agunan. Sementara di KSU Derami Padang pinjaman yang diberikan tidaklah memiliki agunan, artinya jaminan yang diberikan ialah hanya bersifat jaminan sosial.

Syarat untuk mengajukan pinjaman haruslah memiliki rekomendasi seseorang yang memiliki catatan pinjaman bagus, atau tidak adanya tunggakan. Lalu disertai oleh KTP dan Kartu Keluarga, beserta keterangan sedang tidak memiliki pinjaman ke pihak lainnya.

Menurutnya, jika nekat untuk memberikan pinjaman modal usaha senilai Rp10 juta itu, dengan tidak ada agunan, bisa-bisa uangnya raib dan tidak lagi kembali.

Sementara jika diterapkan syarat menggunakan agunan seperti surat-surat kepemilikan kendaraan dan surat penting lainnya, KSU Derami khawatir, bisa melanggar ketentuan lembaga keuangan, sebab pihaknya hanyalah koperasi yang dananya bersumber dari Yayasan Damandiri.

“Kalau sudah besar pinjaman yang kita berikan haruslah mendapatkan izin dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Artinya dengan adanya izin dari OJK nasabah akan mendapat perlindungan dan begitu juga koperasinya. Tapi kita di KSU Derami Padang tidak bisa begitu,” sebutnya.

Ayu menyatakan akan sulit bagi KSU Derami memerikan pinjaman modal usaha senilai Rp10 juta tersebut. Namun setidaknya dengan tetap bertahan ke jumlah pinjaman Rp5 juta itu, sudah dapat memenuhi kebutuhan dari anggota dalam menggerakan usahanya.

Apalagi kini pinjaman anggota senilai Rp5 juta cukup banyak, yakni dari 2.500 lebih anggota, 70 persennya memiliki pinjaman Rp5 juta.

“Jadi saya rasa dengan kondisi ekonomi begini, cukuplah Rp5 juta itu. Jika pun ada Rp10 juta, ya tergantung dari Yayasan Damandiri, apakah bersedia untuk jumlah pinjaman yang demikian,” tegasnya.

Lihat juga...