Titiek Soeharto Bacakan Presidium Emak-Emak Indonesia

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kehadiran Putri Presiden kedua RI, Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) pada acara bertajuk “Hentikan Tangisan Ibu Pertiwi”, menaburkan semangat perjuangan relawan emak-emak pemenangan pasangan Capres Cawapres O2, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Mereka sangat antusias menyambut kedatangan Titiek Soeharto yang terus menebar senyum.

“Assalammuallaikum, Ibu-ibu, sehat semuanya?” sapa Titiek Soeharto, pada acara “Hentikan Tangisan Ibu Pertiwi” di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, Jumat (24/5/2019) sore.

Memulai acara, Putri Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto itu ditunjuk untuk membacakan pernyataan Presidium Emak-Emak Indonesia.

Dalam uraian presidium tersebut, Titiek Soeharto mengatakan, bahwa semangat dan perjuangan mencapai tujuan kehidupan masyarakat yang adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, harus disadari oleh para pemimpin dan rakyat Indonesia.  Memperjuangkan kehidupan yang layak dan lebih baik adalah hak  setiap warga negara.

Sementara dalam pernyataan presidium, disebutkan, bahwa Emak-emak menyadari dan merasakan telah terjadi berbagai kerusakan di berbagai sendi-sendi kehidupan, akibat penyimpangan dalam penyelenggaraan negara. Penyimpangan ideologi moral politik, kebangkrutan dan kapasitas ekonomi, pelanggaran berat HAM, ketidakadilan sosial, degradasi budaya dan nilai luhur bangsa.

Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) berfoto bersama relawan emak-emak pada acara ‘Hentikan Tangisan Ibu Pertiwi’ di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, Jumat (24/5/2019) sore. -Foto: Sri Sugiarti

Disebutkan pula, bahwa Emak-emak adalah yang paling merasakan beban kehidupan keluarga Indonesia, akibat buruknya penyelenggaraan negara. Puncak penyimpangan yang paling dirasakan adalah hilangnya prinsip keadilan, kejujuran dan keterbukaan dalam penyelenggaraan Pemilu 2019.

“Sehingga patut diduga, bahwa rezim penyelenggaraan negara saat ini ingin berkuasa dengan menghalalkan semua cara, termasuk kesewenangan,” kata Putri Cendana, ini.

Hal lain dalam pernyataan presidium, juga disebutkan, bahwa   Emak-emak telah melihat kesewenangan aparat dan merasakan kehilangan anggota keluarga, yang tewas akibat penyelenggaraan Pemilu 17 April 2019.

“Lebih dari 600 korban tewas, dan  12.000 lebih korban dirawat. Inilah pemilu damai yang mematikan di dunia,” kata Titiek Soeharto.

Sementara, lanjutnya, di ujung penyelenggaraan Pemilu dalam dua hari, lebih 26 korban tewas, serta ratusan korban luka dirawat akibat penanganan unjuk rasa yang dilakukan sejak 21 Mei 2019.

Disebutkan pula, bahwa Emak-emak Indonesia tidak akan pernah mendiamkan keadaan yang melampaui batas ini, dan bertekad akan terus memperjuangkan keadilan dan menolak segala bentuk kecurangan pemilu 2019, dan melawan segala kesewenangan aparat.

“Kami, Emak-emak masih berharap, bahwa badan peradilan atau Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai wakil keadilan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, masih layak dipercaya sebagai institusi yang amanah dan mampu mencegah segala bentuk kecurangan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dalam penyelenggaraan Pemilu 2019,” pungkasnya.

Lihat juga...