hut

Umroyati dan Keluarga Kini Bisa Tidur Nyenyak

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Beberapa bulan terakhir, Umroyati (47) dan keluarganya sudah bisa merasakan tidur nyaman dan leluasa. Warga Dusun Pasutan, Trirenggo, Bantul ini tak perlu lagi khawatir memikirkan rumahnya roboh saat hujan angin, tiba. 

Berkat bantuan Yayasan Damandiri, ibu tiga anak yang sehari-hari hanya berjualan mie dan empek-empek keliling ini, kini sudah bisa merasakan memiliki rumah layak huni. Meski terlihat sederhana, namun rumah ini menjadi harapan baru baginya untuk menjalani hidup yang lebih baik.

“Dulu saya tidak punya rumah, karena masih menumpang di tempat orang tua. Itu pun rumah yang saya tinggali hanya dari gedeg/bambu. Atapnya genting dan sudah hampir roboh. Kadang takut kalau sedang hujan deras disertai angin,” katanya, Selasa (28/5/2019).

Sejak akhir 2018, Umroyati mendapatkan bantuan program bedah rumah dari Yayasan Damandiri. Melalui program Desa Mandiri Lestari di desanya, ia mendapat dana sebesar Rp18 juta untuk renovasi. Ia dan suaminya yang hanya buruh tani pun akhirnya memutuskan mendirikan rumah baru.

“Karena suami ada tanah warisan, kita bangun di situ. Agar bisa pisah dari orang tua. Dana bantuan sebesar Rp18 juta digunakan untuk bangun rumah. Memang tidak cukup, karena itu saya dan suami berupa cari tambahan, agar rumah bisa berdiri. Akhirnya jadilah rumah ini,” tuturnya.

Meski tak terlalu luas, rumah baru ini sangat berarti bagi Umroyati dan keluarga. Ketiga anaknya kini bisa istirahat dan tidur pulas, meskipun hujan deras disertai angin tiba.

Dinding rumah bantuan Yayasan Damandiri ini sudah terbuat dari tembok bata yang kokoh. Pondasinya juga sangat kuat, karena terbuat dari cor semen dan berkerangka besi.

“Sekarang kalau ke kamar mandi juga tidak perlu lagi jauh-jauh gabung sama orang tua. Karena sudah punya kamar mandi sendiri,” ungkapnya.

Sebagai pedagang mie dan empek-empek, setiap hari Umroyati harus berkeliling ke sekolah-sekolah menggunakan sepeda kayuh miliknya. Ia berjualan dari satu sekolah ke sekolah lain sejak pagi hingga sore hari, demi membantu suaminya menafkahi dan membiayai ketiga anaknya. Apalagi, suaminya hanya berkerja sebagai buruh tani garapan dengan hasil tak seberapa.

“Tanpa ada bantuan bedah rumah ini, tentu saya dan keluarga tidak mungkin punya rumah sendiri. Karena penghasilanan sehari-hari paling hanya Rp20-50ribu. Karena itu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada Yayasan Damandiri yang telah membantu pendirian rumah ini,” ucap wanita asli Palembang itu.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!