hut

UNEJ Rintis Aplikasi ‘QuickRank’ Bantu Pilih Program Studi

Editor: Koko Triarko

JEMBER – Pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019, menerapkan sistem yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan utama adalah peserta SBMPTN 2019 wajib mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang terdiri dari Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Potensi Akademik.

Hasil UTBK inilah yang akan menjadi modal bagi para peserta untuk mendaftarkan diri, guna memilih program studi di  PTN yang dituju. Tak pelak, perubahan ini membuat peserta SBMPTN 2019 yang sudah menerima hasil UTBK bertanya-tanya, bagaimana menggunakan nilai yang sudah diterima untuk memilih program studi yang diidam-idamkan.

“Kami di Humas Universitas Jember, banyak menerima pertanyaan dari peserta UTBK tentang bagaimana harus memilih program studi berdasarkan nilai yang telah diperoleh, berapa passing grade program studi X, atau apakah dengan nilai seperti ini saya akan diterima di program studi tertentu?” kata Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol Universitas Jember, di Kampus Tegalboto, Jumat (31/5/2019).

Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol Universitas Jember, di ruang kerjanya. -Foto: Kusbandono.

Untuk membantu para peserta SBMPTN 2019 melakukan simulasi pemilihan program studi di PTN, UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Universitas Jember merintis aplikasi simulasi mobile QuickRank.

Aplikasi berbasis android dan IOS yang dapat diunduh secara gratis ini, diharapkan dapat membantu peserta untuk memprediksi peluangnya lolos dalam SBMPTN 2019.

Menurut Agung Purwanto, penggunaan aplikasi simulasi QuickRank cukup mudah, peserta tinggal memasukkan nomor peserta UTBK, nama, alamat email, provinsi, kabupaten serta nama sekolah, kemudian peserta juga harus memasukkan nilai UTBK yang benar dan memasukkan dua pilihan program studi yang dituju.

Selanjutnya, aplikasi QuickRank akan melakukan simulasi berdasarkan data nilai dan jumlah pemilih yang memilih program studi tertentu, hingga muncul posisi peringkat peserta di antara sekian banyak peminat di program studi yang sama.

“Namun perlu diingat, aplikasi QuickRank hanya sekadar simulasi, karena itu bergantung pada banyaknya peserta yang menggunakan. Makin banyak peserta SBMPTN yang menggunakan aplikasi QuickRank, maka akurasinya makin tinggi,” ungkap Agung.

Dengan adanya informasi data peminat dan kuota di sebuah program studi di semua PTN di tahun sebelumnya, sambungnya, maka peserta dapat mempertimbangkan peluangnya akan lolos atau tidak. Misalnya, yang bersangkutan ada di peringkat 35, sementara tahun lalu kuotanya hanya 30 kursi, maka tentu harus berpikir ulang untuk mencari program studi lainnya.
Di akhir penjelasannya, Agung purwanto mengimbau agar peserta SBMPTN 2019 yang berminat menggunakan aplikasi QuickRank, agar tidak sembarangan memasukkan nomor peserta UTBK-nya.

“Hanya nomor yang sudah terdaftar dalam UTBK yang bisa digunakan. Begitu pula sajian pilihan program studi pun juga sesuai dengan kelompok ujian. Sehingga, tidak bisa peserta kelompok ujian Soshum memilih program studi kelompok Saintek, atau sebaliknya,” pungkas Agung.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!