hut

Upaya Pemberdayaan Warga Miskin di Kedungkandang, Berlanjut

Editor: Koko Triarko

MALANG – Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) melalui program Desa Mandiri Lestari (DML), tahun ini kembali meneruskan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kelurahan-Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Tahun ini, upaya tersebut dilakukan melalui program baru, berupa lantainisasi dan pembuatan jamban bagi warga miskin yang rumahnya masih beralaskan tanah, maupun yang belum memiliki jamban.

Tak tanggung-tanggung, kuota jumlah lantainisasi yang diberikan melalui program Desa Mandiri Lestari mencapai 70 unit rumah. Sedangkan untuk jamban sebanyak 57 rumah.

“Alhamdulillah, untuk bantuan lantainisasi dari kuota 70 rumah tersebut sudah terealisasikan semua. Sedangkan jambannya sudah kita selesaikan 46 jamban, sisa 11 jamban yang belum terealisasi dari kuota 57 jamban,” jelas Manajer Umum Koperasi Unit Desa (KUD) Suluh Sejahtera Mandiri, Dian Novianti Widiasari, saat ditemui di kantornya.

Disampaikan Dian, 11 jamban yang tersisa tersebut sebenarnya sudah selesai dalam bentuk jamban komunal, jika saja pemilik tanah tidak berubah pikiran.

“Awalnya, 11 jamban tersisa ini sebenarnya akan diwujudkan dalam bentuk jamban komunal yang ada di RW 1. Tapi, ternyata pemilik tanah yang awalnya setuju tanahnya dijadikan lokasi jamban komunal, tiba-tiba berubah pikiran menjadi tidak setuju,” terangnya.

Akhirnya, sekarang masih tersisa 11 jamban yang belum selesai dan nanti akan diselesaikan setelah lebaran.

Dikatakan Dian, dari tujuh RW yang ada di kelurahan Kedungkandang, setiap RW diberikan kesempatan untuk merekomendasikan warganya, agar bisa mendapatkan bantuan program laintainisasi maupun jamban. Karena memang ternyata masih banyak warga di tujuh RW tersebut yang lantai rumahnya masih berupa tanah, dan tidak memiliki jamban.

Lebih lanjut disampaikan Dian, program lantainisasi dan jamban merupakan pengalihan dari program bedah rumah yang masih menyisahkan 20 rumah dari target 30 rumah. Menurutnya, pengalihan program bedah rumah menjadi program lantainisasi dan jamban, bertujuan untuk pemerataan penerima manfaat.

“Kalau program bedah rumah, manfaatnya hanya dirasakan 30 orang. Sedangkan program lantainisasi dan jamban, manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak warga yang kurang mampu,” ujarnya.

Sehingga, jelasnya, pengalihan program bantuan ini lebih kepada agar jumlah penerima manfaatnya lebih banyak.

Menurutnya, melalui pengalihan program bantuan tersebut, warga tidak mampu yang telah direkomendasikan dari setiap RW bisa mendapatkan bantuan lantainisasi senilai Rp1,5 juta, atau pembuatan jamban senilai Rp500 ribu.

“Setiap penerima manfaat, bisa mendapatkan bantuan berupa lantainisasi saja atau jamban saja. Tapi bisa juga mendapatkan bantuan dua-duanya sekaligus, tergantung kebutuhan warga,” terangnya.

Menurutnya, bantun senilai Rp1,5 juta dan Rp500 ribu tersebut sebenarnya hanya untuk stimulus. Sehingga masing-masing penerima manfaat, jika ada rezeki bisa menambahkannya, agar hasilnya lebih bagus lagi.

“Penerima manfaat cukup menyerahkan fotokopi KTP dan KK. Kemudian kita lakukan survei untuk memastikan apaka warga tersebut memang membutuhkan bantuan lantai dan jamban atau tidak,” pungkasnya.

Lihat juga...