Warga Desa Pasisir Aceh Barat Minta Dibangunkan Tanggul

MEULABOH – Pemerintah Desa Pasir, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, meminta kepada pemerintah daerah segera membangun tanggul pengaman pantai untuk menyelamatkan sisa-sisa permukiman warga yang tergerus abrasi pantai.

“Kami berharap ada pembangunan tanggul permanen. Ada yang kami usulkan lewat dana desa, tetapi berapa kegiatan yang mampu dilakukan, apalagi ini persoalan pemanfaatan ruang laut,” kata Sekretaris Desa Pasir, Jhoni Aruji, di Meulaboh, Minggu (12/5/2019).

Hal itu menyikapi kondisi kawasan desa mereka yang saat ini terus dihempas gelombang pasang, hingga mengakibatkan banjir genangan air laut (rob) serta tertimbunnya badan jalan aspal penghubung desa dalam Kota Meulaboh itu.

Jhon Aruji, menyampaikan, belum lama ini Pemkab Aceh Barat menyetujui rencana pembangunan tanggul pengaman pantai untuk desa mereka, tetapi hanya proyek sisa dari pembangunan tebing pengaman pantai Lhok Bubon.

“Kami dengar sudah disetujui dengan sisa dana APBN, kami diberi sambungan dari proyek di Kuala Bubon, karena belum terserap habis di sana, makanya sisa dana itu akan dibuang kemari, untuk melindungi permukiman daerah kota,” jelasnya lagi.

Jhon mengatakan, rencananya pembangunan dimulai pada awal 2020, sebab saat ini masih dalam proses penuntasan proyek di Kuala Bubon, warga setempat berharap janji pemda itu direalisasikan, sebab permukiman warga sudah kritis.

Sudah lebih dua pekan terakhir, gelombang pasang masih terus terjadi, meski sempat dilakukan pembersihan dengan alat berat, kemudian tertimbun kembali material pasir yang diseret gelombang laut sampai ke badan jalan dan permukiman.

“Cara kerjanya, karena ini adalah musim barat, maka kita tunggu sampai musim timur. Kalau saat ini mustahil bisa dikerjaan, tapi kalau musim timur itu, air laut sudah tenang, gelombang pasang sudah selesai,” imbuhnya lagi.

Warga setempat sudah lama dijanjikan pemerintah akan segera ditanggulangi, pascatsunami 2004, warga tinggal di permukiman Desa Pasir masih mencapai 350 kepala keluarga, kemudian pada 2007 terjadi gelombang pasang paling parah.

Saat itu, warga yang tinggal di pingir pantai meninggalkan rumah, malahan rumah-rumah warga yang sudah siap dibangun oleh BRR masa rehap rekon pascatsunami, sebagian besar hancur dihempas gelombang pasang dan tergerus abrasi.

“Permukiman kami sudah sempit, penduduk sekarang sekitar 140 KK, luas permukiman juga sudah semakin menciut, karena tergerus abrasi dan menjadi laut. Permukiman kami sangat terbuka dan berhadapan dengan gelombang samudera hindia,” sebutnya. (Ant)

Lihat juga...