hut

Warung Anjani

CERPEN UMAR TAJUDIN

FITNAH dan tuduhan keji itu sungguh menyakitkan. Perasaan tercabik dan harapan yang hancur kini menyesakkan dada Anjani. Jika Anjani diberikan kesempatan bicara, maka fitnah dan tuduhan keji tidaklah benar.

Jika Anjani diberikan kesempatan membela tentulah kemarahan yang berkelindan tidak sebesar yang harus menerpanya. Orang-orang seakan tidak peduli lagi apakah isu itu benar atau hanya rekaan semata. Orang-orang tak peduli lagi mana yang benar dan mana yang salah.

Amuk amarah tidak terkendalikan lagi, mereka dengan beringas mengobrak abrik meja, kursi, gelas, sendok dan semua perabotan warung Anjani. Mata mereka kelihatan seperti api yang menyala, melihat sorot mata itu membuat Anjani merasa ketakutan.

Anjani pernah merasakan bagaimana rasa api itu sungguh panas dan menyakitkan. Wajah-wajah teduh yang biasa Anjani temukan ketika mereka datang di warungnya tak satu pun ia temukan.

Mereka rupanya ikut terhasut. Emosi mereka terbakar dan mengobrak abrik serta menghancurkan apa yang mereka temukan.

“Hancurkan…”

“Bakar…  Bakar…”

Anjani hanya bisa menatap nanar kenyataan hidup yang ia alami sekarang. Air matanya basah namun tak satu pun air mata itu menetes dari kedua matanya. Bukan kali ini saja Anjani merasakan kegetiran hidup serupa ini.

Beberapa kali Anjani juga pernah mengalami, rumahnya tanpa alasan yang jelas didatangi orang-orang tak dikenal dan mengobrak-abrik seisi rumah.

Tatapan kosong Anjani yang menyaksikan warungnya rusak parah, membuatnya tidak sadar jika HP di sakunya berdering berkali-kali. Hingga Anjani sadar ada telepon yang menunggunya.

“Halo Dik. Kok dari tadi nggak diangkat teleponnya, Mas kok merasa ada yang tidak beres.”

“Ya Mas.  Warung Anjani Mas. Warung Anjani dihancurkan orang Mas. Seperti tempo hari yang pernah Anjani ceritakan Mas. “

“Kamu baik-baik saja kan?”

“Ya Mas.  Mereka sudah pergi.”

“Ya sudah. Pulang saja  istirahat di rumah ya, nanti malam Mas pulang.”

***

ANJANI di mata suaminya adalah orang yang tekun dan pintar memasak. Sosok istri yang mengerti dan pintar melayani dan itu baginya sebagai bentuk bakti.

Anjani yang lahir di tanah Mataram memiliki ciri khas sendiri dalam cita rasa makanan. Tanah Mataram yang pernah menjadi sapi perah pedagang VOC dengan menyulap sebagian besar lahan menjadi ladang tebu.

Tanaman tebu berbaris pasrah seakan tunduk pada kerakusan VOC. Hasil panen tebu pun melimpah di tengah kebutuhan pangan yang serba kurang. Itulah kenapa tanah Mataram terkenal dengan makanan yang bercita rasa manis. Namun sebaliknya dengan suami Anjani yang lahir dari tanah rantau Melayu, kulinernya bercita rasa pedas, gurih dan asin.

Namun Anjani menghayati dengan baik pandangan hidup tanah leluhur yang seringkali dinasihatkan oleh ibunya. Kata khas yang sering diingatnya adalah ora ilok atau tidak pantas.

“Sebagai orang Jawa, menjadi istri haruslah berbakti pada suami. Layanilah suamimu sebagai bentuk baktimu pada leluhurmu. Dengan baktimu itulah kamu akan mendapatkan kebahagaian bersama keluargamu. Jadilah istri yang baik.”

Nasihat ibunya selalu dipegangnya. Anjani belajar dengan baik bagaimana kemahiran memasak dari ibunya. Kemahiran memasak menurut ibunya adalah bagian ilmu bakti istri pada suami, bakti pada leluhur.

Mendapat jodoh yang memiliki selera makanan yang tidak manis seperti dirinya, Anjani rajin belajar bagaimana menyajikan masakan kesukaan tambatan hatinya.

Tidak cukup dari buku atau bacaan google yang sering Anjani akses dari HP android. Sesekali ketika berlebaran di rumah mertuanya, Anjani menajamkan kemampuan memasak.

“Menyantap masakanmu, Mas selalu merasa ada di rumah Mas sendiri. Rumah masa kecil.  Terima kasih ya Dik,” demikian puji suami Anjani sembari mencium keningnya.

Itulah kenapa suaminya sendiri yang menyarankan kepada Anjani untuk membuka warung makan untuk mengisi waktu luang.

Suaminya tidak ingin Anjani hanya menjadi seorang ibu di rumah dengan kesibukan monoton yang membuat Anjani tidak berkembang.

Suami Anjani tidak ingin tumpuan ekonomi keluarga  hanya bersandar pada satu titik suaminya saja. Setidaknya meski tidak utama, seorang ibu juga harus belajar bisa survive secara ekonomi. Terutama bila seorang suami oleh Tuhan dikehendaki lebih dulu berpulang.

Anjani pun membuka warung makan, Warung Anjani. Warung yang Anjani niatkan sebagai bentuk bakti pada suami dan juga bakti kepada orang yang membutuhkan.

Suaminya mengajarkan bahwa seseorang harus bekerja berdasarkan talenta yang Tuhan berikan. Bekerja semestinya diniatkan untuk membantu banyak orang.

Bekerja bukanlah untuk mencari uang. Bekerja adalah panggilan hidup untuk melayanai kebutuhan banyak orang. Bekerjalah dengan tujuan untuk memberi manfaat bagi banyak orang maka dengan itu kita akan mendapatkan kebahagian dalam hidup.

Karena hidup menjadi punya arti. Uang adalah akibat yang akan datang dengan sendirinya.

Warung Anjani secara perlahan mulai ramai dikunjungi orang-orang yang merasa lapar. Ketekunan Anjani belajar resep memasak dan niat tulus Anjani melayani dengan sebaik-baiknya, membuat masakan Anjani selalu dipuji orang-orang yang berkunjung untuk melepas lapar.

Kelezetan warung Anjani pun menyebar menular demikian cepat pada orang-orang di sekitar warung atau pun orang- orang  jauh yang kebetulan mampir dari perjalanan. Pesan yang berkembang dari mulut ke mulut sepertinya tak bisa ditandingi oleh segala bujuk rayu iklan.

Tampaknya keberadaan warung Anjani bertambah minggu dan bulan menjadi ancaman bagi warung lain. Ada orang-orang yang tidak ingin warung Anjani menjadi besar dan telah menjadi monster menakutkan bagi mereka.

Orang-orang ini pun melampiaskan rasa dengki dan iri. Mereka menyewa orang-orang khusus yang ditugaskan untuk membagikan pengalaman buruk makan di warung Anjani.

Orang-orang ini pura-pura makan di warung lalu membuat ulah dengan memasukkan kecoa atau lalat dalam piringnya. Orang-orang yang sedang makan pun segera pergi dengan berbagai umpatan dan menggebrak meja.

“Dasar kotor.”

”Menjijikkan.”

Ulah orang-orang ini ternyata tidak sebatas itu. Mereka merencanakan tuduhan yang lebih keji. Mereka menuduh, warung Anjani memakai pesugihan. Mereka mengatur siasat bagaimana tuduhan bisa dipercaya.

Mereka menjalankan aksi ketika warung Anjani sedang ramai oleh pengunjung. Beberapa orang saling berbagi tugas untuk memuluskan rencana jahat.

“Ini apa. Astaghfirullah hal adzim. Ini celana dalam kok ada dalam panci sayur!“ teriak salah seorang yang mulai memancing keributan.

“Wah itu tanda pesugihan. Pantas itulah yang membuat masakan warung laknat ini kelihatan lezat.”

“Kemarin waktu saya bawa pulang masakannya menjadi tidak enak.”

“Pantas kemarin istri saya bawa anak kecil makan di warung ini menangis terus.”

“Kurang ajar.”

“Bakar bakar.”

“Hancurkan.”

Orang-orang itu kemudian melempar dan merusak semua yang mereka temukan. Semuanya tidak tersisa. Hanya ada sosok Anjani yang terkulai lemas di sudut warung.

***

MALAM itu suami Anjani pulang sebagaimana ia janjikan lewat telepon. Malam itu Anjani merasakan  pelabuhan bagi kapal jiwanya yang remuk redam.

Kapal yang terombang ambing dan buritan yang mulai pecah membuatnya merasa aman menemukan daratan. Tidak banyak kata-kata untuk membuat jiwa Anjani kembali tenang.

Sebidang dada tempat beban baginya bersandar telah membuatnya tenang dan mampu kembali perlahan menata puzzle kehidupannya yang porak poranda.

Rasanya hidup dalam dekapan suami adalah kebahagian yang tidak bisa Anjani lukiskan. Sosok laki-laki seperti suaminyalah yang kini mampu memberikan kedamaian dan ketenangan. Hingga belaian suami Anjani membuatnya perlahan menuntun menuju alam yang dirindukan.

Anjani seakan telah menuju impiannya. Anjani menyaksikan keindahan masa kecil ketika berlari-lari di sepanjang pantai untuk mengejar bayangan indah matahari pagi.

Namun ketika matahari pagi benar-benar merekah, sinar sang surya terasa mulai menghangatkan wajah Anjani. Anjani tersadar dari mimpi, dari tidur. Anjani terbangun namun tidak mendapatkan sosok belahan jiwanya.  Namun, ia sejenak menemukan secarik kertas di atas bantal suaminya.

Anjani, sayangku.  Mohon maaf pagi sekali, Mas harus pamit kerja kembali.  Ada banyak desas-desus yang kini mengancam ibu kota. Desas-desus yang belum tentu benar. Mas harus meliput secara berimbang agar tidak ada lagi korban dari tuduhan keji orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Salam sayang untuk cintaku, Anjani. ***

Umar Tajudin, alumni Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di harian lokal dan nasional seperti harian Bernas dan Seputar Indonesia. Antologi cerpennya, Perempuan Bapak.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

 

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!