hut

Anjing Rabies Serang Lima Warga di Sikka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penyakit rabies masih mengintai masyarakat kabupaten Sikka dan beberapa kabupaten lainnya di pulau Flores dan Lembata. Anjing sebagai salah satu hewan penular rabies masih banyak yang terjangkit virus rabies sehingga sangat membahayakan bagi manusia.

“Sejak tanggal 26 Mei hingga 16 Juni tahun 2019, anjing rabies kembali menggigit lima orang warga kabupaten Sikka. Hasil pengujian dilakukan dengan metode Fluorescent antibody test (Fat) di laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar, Bali,” sebut dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata, Rabu (26/6/2019).

dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL). Foto: Ebed de Rosary

Asep menerangkan, gigitan anjing rabies pertama dan kedua terjadi pada tanggal 26 dan 27 Mei di desa Kokowahor, kecamatan Kangae. Sementara itu gigitan ketiga terjadi di kelurahan Kota Baru, kecamatan Alok Timur di kota Maumere pada 29 Mei 2019.

“Kasus keempat dan kelima terjadi di desa Koting B kecamatan Koting. Dalam sehari tanggal 16 Juni 2019, anjing rabies menggigit dua orang sekaligus. Beberapa sampel otak anjing yang diperiksa juga positif rabies meski tidak menggigit manusia,” terangnya.

Beberapa sampel otak anjing yang diambil dari desa Koting B serta desa Hoder di kecamatan Waigete,juga positif tertular rabies. Anjing-anjing tersebut kata Asep, untungnya hanya menggigit ternak warga bukan manusia.

“Kita harus tetap waspada mengingat saat ini banyak anjing peliharaan warga baik di kota Maumere maupun di desa-desa di kabupaten Sikka yang sudah tertular virus rabies. Bila digigit anjing, segera bawa korbannya ke puskesmas atau rumah sakit untuk disuntik vaksin antirabies,” harapnya.

Asep menjelaskan, sejak adanya penyakit rabies di Flores Timur tahun 1997, hingga saat ini telah mengakibatkan 300 orang meninggal dunia. Khusus untuk kabupaten Sikka, dalam setahun ada sekitar seribu lebih kasus gigitan anjing rabies.

Untuk kabupaten Sikka saja sebut dokter ahli penyakit dalam ini, populasi anjing hingga tahun 2019 mencapai 60 ribu ekor. Tidak semua anjing bisa dilakukan vaksin akibat dari terbatasnya stok vaksin di dinas Pertanian kabupaten Sikka.

“Alokasi vaksin antirabies (VAR) untuk hewan pada tahun 2019 ini hanya 22 ribu dosis. Sebanyak 12 ribu dosis berasal dari pemerintah pusat dan 10 ribu dosis dibeli dari anggaran kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dinas Kesehatan kabupaten Sikka, dr. Harlin Hutauruk, mengatakan, untuk korban gigitan Hewan Penular Rabies (HPR), dibutuhkan biaya Rp 1 juta sebagai pembelian 4 vial Vaksin Anti Rabies (VAR) pada manusia.

“Satu vial dibeli dengan harga Rp250 ribu sementara untuk korban gigitan HPR diberikan maksimal 4 kali suntikan. Ini harus dilakukan agar korban gigitan bisa terhindar dari penularan rabies,” ungkapnya.

Harlin menjelaskan, pelayanan suntikan VAR kepada manusia sebagai korban gigitan HPR diberikan secara gratis.  VAR telah diadakan dinas Kesehatan kabupaten Sikka sebanyak 600 vial, dan bantuan dari dinas Kesehatan provinsi NTT ada tiga ribu vial.

Lihat juga...