Aryasuta

CERPEN YUDITEHA

AKHIR tahun 1742 di Ujung Timur Bumi Sukowati.

“Sekarang ini Kraton Kartasura kosong kepemimpinan, hal itu akan memicu para pembesar saling berlomba untuk meyakinkan dirinya yang pantas berkuasa,” kata Yasyar.

“Apa benar begitu, Kang?” tanya Barak pada Wanggi.

“Begitulah. Karenanya, selain pada kompeni, aku juga tidak suka dengan sikap sebagian besar bangsawan. Sering mikir perutnya sendiri. Konsep perilaku mereka adalah tukang perahu. Segala kebaikan selalu dibarengi pamrih,” jawab Wanggi.

“Apakah semua begitu, Kang?” tanya Barak.

“Tidak semua, makanya aku tadi bilang sebagian besar. Tapi memang sulit menemukan yang benar-benar tulus.” Wanggi menanggapi.

“Coba berikan contoh satu saja, tokoh pembesar yang rela dan ikhlas memberi pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan?” tantang Wanggi kemudian.

“Itu Kang, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said,” jawab Barak.

“Apa kalian yakin mereka tidak punya pamrih?” pertanyaan Wanggi meyakinkan Yasyar dan Barak.

“Mungkin, Kang,” jawab Yasyar ragu.

“Kalian masih bimbang. Kalian hanya menerka karena belum kenal secara pribadi dengan mereka,” kata Wanggi menanggapi jawaban Yasyar.

Lalu Wanggi menambahkan, sebenarnya ada satu contoh orang yang masuk ketegori itu. Anak pembesar, bahkan anak raja tapi rela dan ikhlas berkorban demi rakyat tanpa berharap balasan. Dan senyatanya mereka sudah mengenalnya dengan sangat baik. Mendengar penjelasan Wanggi, Yasyar dan Barak saling pandang.

“Siapa, Kang?” tanya Yasyar.

“Aryasuta. Dialah orangnya.”

“Aryasuta? Aryasuta teman kita, Kang?!”

“Ya. Dia putra salah satu raja di Nusantara ini. Dan dia mau berjuang demi kawula. Karena pengorbanannya tidak ingin disalah mengerti, maka dia tidak mau memberitahu siapa jati diri orangtuanya. Dia hanya mengatakan kalau orangtuanya seorang raja dan dia sengaja pergi dari istana untuk ikut berjuang bersama kita.”

“Kang Wanggi percaya?” tanya Barak.

“Sangat percaya. Jika kalian bersamanya nanti, pandanglah dengan mata hati. Kalian tidak akan sangsi lagi,” jawab Wanggi.

“Tapi mengapa Aryasuta memilih bergabung dengan kita, Kang?” tanya Yasyar.

“Iya Kang. Mengapa dia rela menjadi anak buah Kang Wanggi?” Barak juga menimpal tanya. Keduanya seperti belum yakin.

Lalu Barak juga melanjutkan perkataannya, jika memang benar Aryasuta anak raja, bukankah dia dapat menyusun kekuatan sendiri dengan mengajak orang-orang bergabung untuk melakukan perjuangan bersamanya.

“Bukan karena Aryasuta tidak punya kemampuan,” jawab Wanggi. Lalu Wanggi menerangkan bahwa Aryasuta berkenan menjadi anak buahnya karena ingin berkorban dengan tulus tanpa dipandang sebagai anak keturunan raja.

“Berarti dia juga tidak ingin jadi pewaris kerajaan ya, Kang?” tanya Yasyar.

“Tidak. Suatu kali dia pernah mengatakannya padaku,” jawab Wanggi.

”Hebat benar Aryasuta. Jarang ada orang seperti itu,” sahut Barak.

“Benar. Karena itu kita harus menghargai pilihannya,” kata Wanggi.

Barak dan Yasyar manthuk-manthuk (manggut-manggut), tapi sepertinya mereka masih heran dengan keputusan Aryasuta, atau mungkin mengaguminya.
***
KIRA-KIRA setengah jalur lintas utama Madiun-Mataram, sore itu berwarna senja. Jingga di barat menandakan hari sedang menuju malam.

Pelan-pelan awan mengantar matahari menuju cakrawala barat, lalu seperti buru-buru menyelinap di balik bukit-bukit cadas. Angin bertiup kencang menerpa pohon-pohon bambu hingga batangnya mentiyung sampai pucuk-pucuknya seperti hendak mencumbui bumi.

Suasana buram, terlebih di sekitar hutan Pinus di ujung timur bumi Sukawati ini. Lolongan anjing sesekali terdengar menyentuh bulu kuduk. Di sinilah tempat sementara basis perjuangan Wanggi.

Rasanya gelap datang lebih cepat dari biasanya, seperti ingin memberi isyarat bahwa di ujung timur bumi Sukawati ini sebentar lagi akan terjadi peristiwa besar. Dunia akan mencatat peristiwa ini sebagai masa lalu yang tidak bisa dilupakan. Dan rakyat akan mengenangnya sebagai salah satu hari perjuangan.

Perihal perjuangan, sebenarnya bukan hanya nama dari orang-orang besar saja yang berhak untuk diingat dan masuk dalam cacatan sejarah. Orang kecil yang suatu kali telah melakukan pengorbanan dan memberikan jasanya yang begitu besar kepada umat manusia, maka nama orang itu pun layak juga untuk dikenang dan diabadikan. Sekali lagi, mereka juga berhak mendapatkannya.

Wanggi dan tujuh orang anak buahnya – Aryasuta, Yasyar, Barak, Widaga, Braja, Anggit dan Dasih telah siap menghadang perjalanan kompeni. Menurut laporan telik sandi (mata-mata), sore ini akan ada separuh iring-iringan barisan kompeni menuju kraton Kartasura untuk suksesi Paku Buwana II yang ingin menduduki kembali tahta yang lepas dari genggaman.

Separuh rombongan lainnya diduga lewat melalui jalan Magetan – Lawu. Dan Wanggi ingin menghentikan rombongan kompeni itu. Mereka telah siap menghancurkan kompeni dengan cara tiba-tiba.

“Aryasuta, Yasyar, Braja dan Widaga.”

“Ya, Kang.”

“Kalian berada di sebelah utara jalan, naik ke atas bukit dan bersembunyi di balik batu-batu cadas itu. Di atas sudah ada empat batu besar dan semuanya telah siap kalian gelindingkan saat barisan kompeni telah berada pada sasaran. Satu orang menggelindingkan satu batu.”

“Siap, Kang.”

“Barak, Dasih dan Anggit.”

“Ya, Kang.”

“Kalian bersamaku di selatan jalan, kita akan bersembunyi di gua-gua kecil itu dan siap menyerang barisan kompeni dengan anak panah dan tombak. Ingat, begitu barisan kompeni telah berada pada area ini, kalian segera beraksi tanpa harus menunggu kode lagi dariku.“

“Siap, Kang.”

“Perhatikan, satu hal yang harus kalian camkan, pada saat penyerangan, sebisa mungkin kalian menjaga diri sendiri dan harus mandiri dalam keputusan. Bukan berarti tidak peduli dengan keadaan teman. Ini pelajaran tentang konsentrasi.

Tapi begitu kalian melihat ada teman yang terluka, segera tolong temanmu dan mencari perlindungan. Yang lebih penting lagi, penyerangan ini akan kita lakukan secepat mungkin lalu kita menghilang. Dan kita dapat melanjutkannya pada perang dengan perencanaan dan taktik yang selalu berbeda.”

Lihat juga...