Bantu Operasional Hanggar, Pemkab Banyumas Siap Beli Sampah Organik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Pengolahan sampah di wilayah Kabupaten Banyumas masih menyisakan masalah, sebab residu yang dihasilkan masih cukup besar dan untuk sampah organik belum dikelola dengan maksimal. Karenanya, untuk membantu operasional hanggar, Pemkab Banyumas akan membeli sampah-sampah organik.

Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengatakan, pihaknya bersedia untuk membeli sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis tinggi karena belum diolah dengan harga tinggi. Namun, pihak hanggar diminta untuk serius memilah antara sampah organik dan sampah anorganik.

Bupati Banyumas, Achmad Husein. -Foto: Hermiana E. Effendi

“Kita siap untuk membeli sampah organik hasil pemilahan dengan harga tinggi yaitu Rp 75.000 per kubik, namun dengan catatan sudah melalui proses pemilahan yang benar, sehingga yang kita beli benar-benar sampah organik semua,” terang Husein, Rabu (19/6/2019).

Sejauh ini, sampah organik hasil pemilahan masih ada yang tercampur dengan sampah anorganik seperti plastik. Hal ini tentu akan mengurangi nilai ekonomis sampah organik. Terlebih sampah organik belum mulai diolah, sehingga menumpuk.

Lebih lanjut Husein menjelaskan, dari hasil evaluasi yang dilakukan, pemilahan sampah organik dan anorganik ini, tidak sesuai dengan perencanaan awal saat pembentukan hanggar. Dimana saat itu, residu yang dihasilkan diharapkan hanya kisaran 30 persen. Namun yang terjadi, residu yang dihasilkan masih kisaran 70 – 80 persen.

Jika hanggar masih memerlukan bantuan dari pemkab karena operasional belum maksimal, lanjut Husein, maka bantuan yang bisa diberikan adalah dengan membeli sampah hasil pengolahan. Sebab, waktu untuk memberikan subsidi operasional sudah melampaui batas.

Dengan harga yang dinilai tinggi ini, kata Husein, diharapkan hanggar tidak akan mengesampingkan sampah-sampah yang kurang bernilai ekonomis, tetapi sampah organik pun dipilah dengan baik.

“Rencana pembelian sampah organik ini akan diberlakukan pada anggaran perubahan tahun ini, karena harus menunggu anggaran yang akan diajukan dan diperkirakan bisa mulai dilaksanakan pada akhir tahun 2019 atau awal 2020,” jelasnya.

Terkait pemanfaatan sampah organik yang dibeli tersebut, Husein menjelaskan, sampah nantinya akan dicacah dan dimasukkan ke mixer, dicampur dengan probiotik untuk bisa terurai. Kemudian sampah akan dicampur tanah, pasir, gamping. Hasilnya, akan menjadi tanah yang subur dan bisa diambil petani secara gratis.

“Intinya, kita menginginkan jangan sampai ada sampah berceceran dan tidak dikelola dengan baik. Terlebih untuk sampah organik, karena akan menimbulkan bau menyengat,” pungkasnya.

 

Lihat juga...