Bantuan Jadup dan Santunan Korban Tsunami Selat Sunda Dicairkan Kemensos

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Bantuan Jaminan Hidup (Jadup) dan santunan yang diberikan untuk keluarga korban tsunami di Selat Sunda, membantu meringkatkan beban hidup.

Harry Hikmat, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kementerian Sosial (Kemensos) menyebut, santunan bagi 109 ahli waris korban meninggal dunia, dan jadup bagi 1.178 jiwa, diharapkan bisa dimanfaatkan untuk membangun kehidupan pasca-tsunami.

Bantuan yang diberikan berupa jadup dan santunan dengan total nilai Rp2.341.800.000. Bantuan jadup bagi 1.178 jiwa, perorang sebesar Rp10.000 selama 60 hari. Total nilainya Rp706.800.000. Sementara santunan bagi 109 jiwa korban, masing-masing mendapatkan Rp15.000.000, sehingga total yang diberikan sebanyak Rp1.635.000.000.

Harry Hikmat menyebut, bantuan yang diberikan tidak bernilai besar, jika harus dibandingkan kerugian nyawa dan harta benda. Meski demikian, pemerintah melalui Kemensos memastikan, keberlangsungan hidup masyarakat pasca-bencana bisa terus berlangsung. Dan bantuan tersebut menjadi salah satu cara untuk memastikannya.

“Faktanya, akibat bencana alam, sebagian warga harus hidup dalam keterbatasan. Oleh karena itu, jaminan hidup bisa dimanfaatkan untuk modal usaha, pendidikan anak, merawat kesehatan, serta pemanfaatan untuk taraf kesejahteraan usai tsunami,” terang Harry Hikmat usai mencairkan bantuan jadup dan santunan korban tsunami Selat Sunda di kompleks rumah Dinas Bupati Lampung Selatan, Rabu (26/6/2019).

Personil Tagana Lamsel memapah Rudi Saputra,korban tsunami yang masih dalam tahap penyembuhan pada bagian kaki akibat tsunami 22 Desember 2018 silam di wilayah pesisir Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Harry menyebut, saat ini masyarakat yang masih tinggal di hunian sementara (huntara) akan diberi hunian tetap (huntap) oleh pihak terkait. Dan usai tsunami Selat Sunda di akhir tahun lalu, pemda dan masyarakat diminta membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB). Ia memastikan, Taruna Siaga Bencana (Tagana) telah menyosialisasikan pembentukan KSB.

Kegiatan digelar untuk pengurangan resiko bencana (PRB) sejak dini, dengan program Tagana Masuk Sekolah (TMS). “Jangan pernah tabu membicarakan bencana, terutama untuk masa mendatang agar siap selamat,” papar Harry Hikmat.

Plt Bupati Lamsel, Nanang Ermanto, menyebut, butuh waktu tujuh bulan, hingga jadup dan santunan bisa diterima korban tsunami di Lampung Selatan. Verifikasi dan pendataan harus dilakukan, agar penerima sesuai dengan data dan fakta yang ada di lapangan. “Selama ini, Pemkab Lamsel terus berupaya mendorong agar santunan dan jaminan hidup diberikan, dan akhirnya terwujud,” tandas Nanang.

Lebih lanjut dikatakan, masyarakat diminta mengikuti anjuran dari pihak terkait mengenai pemanfaatan sepadan pantai. Meski bencana alam tidak bisa diprediksi, namun potensi kerawanan sudah sering disosialisasikan, sehingga masyarakat bisa lebih waspada.

Salah satu penerima bantuan jadup dan santunan ahli waris, adalah Rudi Saputra dan sang istri Anengsih. Warga Desa Way Muli Timur tersebut, harus kehilangan tempat tinggal serta kehilangan dua orang anaknya, Riski dan Jihan masing masing berusia 8 tahun dan 3,5 tahun.

Rudi Saputra sampai saat ini masih menjalani perawatan akibat kaki yang terluka. Dia sudah menjalani operasi hingga tujuh kali karena luka tersebut. “Sedih karena harus kehilangan dua anak kami, sementara saya masih harus menjalani proses penyembuhan pada kaki,” tandas Rudi Saputra.

Menerima santunan Rp30juta dan bantuan jadup, Dia mengaku masih fokus menyembuhkan kakinya. Selama hampir tujuh bulan menjalani penyembuhan, Dia belum berniat kembali ke kampung. Masih memilih tinggal di dekat rumah sakit untuk memudahkan proses perawatan.

Lihat juga...