Cuaca Buruk, Nelayan di Kupang Berhenti Melaut

Ilustrasi -Dok: CDN

KUPANG – Para nelayan tangkap ikan cakalang yang beroperasi dengan kapal pole and line atau kapal jenis penangkapan massal di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, berhenti sementara melaut akibat cuaca buruk yang terjadi di wilayah perairan setempat.

“Sekarang semua lagi pada istirahat, hampir semua kapal cakalang di Kupang parkir karena cuaca buruk,” kata seorang nelayan tangkap ikan cakalang yang berbasis di TPI Tenau Kota Kupang, Muhamad Nasir, di Kupang, Rabu (12/6/2019).

Hal itu terkait dampak cuaca buruk yang melanda sejumlah wilayah perairan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, terhadap aktivitas melaut para nelayan di ibu kota provinsi.

Menurut dia, hanya ada satu kapal cakalang keluar melaut di sekitar Laut Sawu, namun tidak menggunakan umpan yang dipasok kapal bagan di Kota Kupang, melainkan mengambilnya di wilayah Pulau Flores.

“Pasokan ikan untuk umpan hidup di Kupang sangat lemah karena memang kondisi cuaca buruk, sehingga kapal-kapal bagan juga parkir,” katanya.

Pemilik sekaligus nahkoda kapal cakalang KM Nurul Hikmah itu mengatakan, informasi dari kapal nelayan yang keluar melaut juga memperoleh hasil tangkapan yang kecil atau sekitar dua ton selama dua hari.

Nasir menambahkan, dalam kondisi seperti ini, nelayan setempat cukup kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sehingga banyak yang beralih profesi dengan mencari pekerjaan serabutan.

“Ada yang bantu-bantu jadi buruh, kuli bangunan, kondektur, dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sambil menunggu cuaca membaik baru bisa melaut lagi,” katanya.

Terpisah, Stasiun Meteorologi El Tari Kupang memperkirakan cuaca ekstrem berupa angin kencang yang melanda sebagian besar wilayah NTT akan terus berlangsung sampai Agustus 2019.

“Angin kencang yang saat ini sedang melanda NTT masih berlangsung hingga Agustus, dengan kecepatan yang sangat fluktuatif,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo.

Ia mengatakan, cuaca ekstrem ini juga mengakibatkan tinggi gelombang laut seperti di Selat Sape mencapai 2,5 meter, Selat Sumba 3,5 meter, perairan selatan Pulau Sumba mencapai 4 meter. Selain itu, gelombang tinggi juga terjadi di Laut Sawu, Selatan Laut Timor, perairan selatan antara Kupang dan Pulau Rote, serta Samudera Hindia di Selatan NTT.

“Karena itu, kami imbau agar pengguna jalan agar mewaspadai dampak angin kencang seperti pohon tumbang dan lainnya, kemudian pengguna transportasi laut maupun nelayan agar mewaspadai potensi gelombang tinggi tersebut,” katanya. (Ant)

Lihat juga...