hut

Damandiri Hidupkan Kembali KUD

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAJALENGKA – Peranan Yayasan Damandiri salah satunya membangun kembali koperasi pedesaan yang telah lama hilang.

Yayasan Damandiri yang berdiri pada tahun 1996 merupakan yayasan yang memiliki tujuan utama yakni ikut serta membantu masyarakat di dalam proses pemberdayaan keluarga miskin menjadi sejahtera.

Subiakto Tjakrawerdaja, ketua Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (DAMANDIRI) bersama dengan Firdaus Sekretaris Yayasan Damandiri, Siswanto Bendahara Yayasan Damandiri, dan tim dari Jakarta melakukan kunjungan ke Desa Cerdas Mandiri Lestari di Bantar Agung Kabupaten Majalengka, dalam rangka penandatanganan MoU dengan Koperasi Al-Azhariyah.

Suasana penandatanganan MoU antara Yayasan Damandiri dengan Koperasi Al-Azhariyah. Foto: M. Fahrizal

Subiakto katakan, Yayasan Damandiri yang  didirikan Presiden Kedua RI Soeharto, bertujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu atau miskin menjadi sejahtera dan mandiri dengan program mengentaskan kemiskinan. Melalui bantuan dukungan dari  pengusaha-pengusaha besar.

Subiakto katakan, langkah Damandiri melakukan penandatanganan MoU dengan koperasi Al-Azhariyah desa Bantar Agung, ingin menjadikan koperasi sebagai pilar pembangunan desa, menjadi ekonomi desa.

Tidak hanya itu, misi dan visi dari kerjasama ini menurut Subiakto, yakni bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mandiri.

Kesejahteraan yang bermartabat, dengan platform atau landasan di antaranya desa Bantar Agung harus benar-benar mampu merawat, membangun, dan memperkuat jiwa serta semangat gotong royong yang merupakan falsafah Pancasila.

“Gotong royong atau kerjasama yang paling tepat di desa yakni dengan koperasi,” ucapnya, belum lama ini. Subiakto sampaikan bahwa Yayasan Damandiri akan membangun koperasi secara besar-besaran dan koperasi memang harus menjadi soko guru ekonomi desa Bantar Agung.

Walaupun di desa Bantar Agung sudah ada konsep Bumdes, Subiakto katakan, bahwa koperasi memang harus menjadi salah satu Bumdes tersebut.

“Jika konsep Bumdes di desa Bantar Agung memang sudah ada badan hukumnya, mari kita bersinergi, jangan bersaing, saling bekerja sama,” ungkapnya.

Program Yayasan Damandiri memang akan lebih mengutamakan koperasi. Dan akan terus diperbesar atau dikembangkan koperasi tersebut, karena merupakan perintah dari Undang-Undang Dasar 1945 dan  merupakan bagian dari sistem ekonomi Pancasila yang bersumber dari pasal 33 dan pasal 34 UUD 1945.

Menurut Subiakto, kegiatan ekonomi rakyat seharusnya memang koperasi yang menjadi kekuatan besar. Ketika masa Orde Baru, KUD menjadi kekuatan desa. Memang pada saat itu KUD belum sempurna, masih banyak kelemahan, namun sudah  dirasakan manfaat  KUD tersebut.

Nantinya, koperasi yang ada di desa Bantar Agung akan menjadi KUD. Kenapa menjadi KUD, karena konsep KUD berbeda. Konsep KUD  merupakan koperasi serba usaha yang sesuai dengan jiwa dan semangat koperasi Indonesia.

“Koperasi Indonesia berlandaskan Pancasila, berlandaskan asas gotong royong, berlandaskan paham kekeluargaan atau kebersamaan. Itu yang kita terapkan di koperasi-koperasi yang telah kita bina di berbagai desa,” ucapnya.

Jiwa dan semangat gotong royong yang ada di desa, mari diperkuat. Dikembangkan menjadi kekuatan desa.

“Gotong royong, kerjasama inilah yang menjadi kata kunci untuk menjawab tantangan di masa depan,” demikian Subiakto mengakhiri pembicaraan.

 

Lihat juga...