hut

Dana PNPM Diterima Kelompok tak Sesuai Pengajuan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pemberian dana pinjaman bagi kelompok yang mengajukan  kepada pihak pengelola Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di kecamatan Bola tidak sesuai pengajuan. Banyak dana yang diduga di-mark up untuk kepentingan pribadi oknum tertentu.

“Kami berharap agar aparat penegak hukum bisa mengungkap adanya dugaan korupsi dana ini. Banyak anggota kelompok yang namanya dicatut untuk mendapatkan dana PNPM,” sebut Albertus, Minggu (16/6/2019).

Dikatakan Albertus, banyak dana yang diajukan kelompok tetapi yang diterima tidak sesuai dengan pengajuan. Ada juga kelompok yang diduga fiktif dan dana PNPM pun dikucurkan tetapi dana tersebut diduga mengalir kepada oknum-oknum tertentu.

Fransiskus Lero, warga desa Bola, kecamatan Bola, menyebutkan, kelompok Kasih Ibu beranggotakan 9 orang mengajukan dana pinjaman bergulir sebesar Rp82 juta. Dana tersebut dicairkan sesuai dengan pengajuan tetapi dalam data tertera Rp190 juta.

“Saya tidak tahu kalau nama 9 orang yang menerima dana tersebut. Tapi kalau nama 9 orang di kelompok Kasih Ibu semuanya mendapatkan dana pinjaman sesuai dengan pengajuan kelompok,” terangnya.

Dana sebesar Rp.108 juta sisanya, kata Fransiskus, pihaknya tidak mengetahui diperuntukkan buat siapa. Sementara dana sebesar Rp.82 juta yang dipinjam kelompok Kasih Ibu semua anggota mencicil pinjaman tersebut dan disetor ke pengelolanya.

“Semua anggota kelompok yang menyetor dana saya catat meskipun pengelola tidak memberikan kuitansi tanda terima. Saya mempunyai data lengkap cicilan dana dari setiap anggota,” sebutnya.

Fransiskus mengaku pernah mengingatkan pengelola agar segera menangani dana sebesar Rp.108 juta tersebut. Kalau anggota kelompok Kasih Ibu dirinya mengaku menangani dan terkadang dana cicilan pembayaran pinjaman disetor ke kantor UPK Bola atau diambil sendiri oleh pengurus.

Maria Novena, warga dusun Wologahar, desa Ipir, pun mengaku tidak mengetahui adanya dana PNPM yang diterimanya meskipun namanya terdaftar. Dirinya bahkan bersumpah tidak menerima dana Rp.5 juta meskipun namanya terdata menerima.

“Saya juga tidak tahu ada kelompok dan nama saya tercantum mendapatkan dana. Pernah ada pengurus yang datang minta fotocopy KTP saya dan dikatakan mau urus pemasangan meteran listrik,” ungkapnya.

Namun hingga berjalan sekitar 5 tahun, kata Maria, meteran listrik yang dijanjikan dipasang tidak terealisasi. Dirinya kaget ketika mengetahui namanya tertera sebagai peminjam dana PNPM sebesar Rp.5 juta.

“Memang tahun 2014 pengurus kelompok PNPM datang minta dokumen saya untuk keperluan pasang meteran listrik gratis. Tapi sampai sekarang rumah saya pun tidak dipasangi meteran. Kalau soal dana PNPM saya tidak tahu menahu dan tidak menerimanya,” tegas perempuan renta ini.

Lihat juga...