Dinkes Bengkalis Hentikan ‘Survaeilans’ Cacar Monyet di Pelabuhan

Ilustrasi -Dok: CDN

BENGKALIS – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, menghentikan analisis data yang relevan dalam mengatasi masalah (survaeilans) terhadap penyebaran virus cacar monyet di pintu masuk pelabuhan kapal yang ada di daerah setempat.

“Sejak beberapa hari ini, kita telah melakukan pemantauan di pintu masuk pelabuhan kapal domestik, hasilnya tidak ditemukan indikasi penyakit cacar monyet masuk ke Bengkalis,” ujar Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Dinas Kesehatan Bengkalis Alwizar, Rabu (12/6/2019).

Dikatakan Alwizar, penghentian pengawasan terhadap penyakit cacar monyet ini didasari indikasi, bahwa tidak adanya peningkatan jumlah penderita di Singapura. Kemudian, tidak ada masyarakat Batam sebagai buffer area dari Singapura yang tertular Monkeypox.

“Kemudian, dari laporan survaeilans aktif oleh seluruh Puskesmas tidak ada pasien yang menunjukkan gejala Monkeypox,” sambung Alwizar.

Dikatakan pria yang akrab disapa Awi ini, sejak tersebar berita penularan penyakit cacar monyet di Singapura, Dinas Kesehatan Bengkalis bersama instansi terkait langsung melakukan pengawasan ketat.

Pihak-pihak yang terlibat dalam pengawasan itu, Kantor Kesehatan Pelabuhan Wilayah Kerja (KKP Wiker) Bengkalis dan Sungai Pakning, pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), UPT Puskesmas serta pihak terkait.

Dari informasi yang disampaikan oleh Ministry Of Health Singapura (Menteri Kesehatan Singapura), tidak ada peningkatan jumlah penderita Monkeypox dari jumlah awal yang terpapar sebanyak 23 orang.

Hal ini disebabkan Pemerintah Singapura melakukan tindakan karantina (isolasi) yang sangat ketat terhadap 23 penderita tersebut, sehingga penularan kepada yang lain menjadi terputus.

Pada saat kejadian, Pemerintah Kota Batam langsung mengaktifkan alat pemindai suhu tubuh (thermo scanner) di pelabuhan dan juga Bandara Sekupang. Demikian juga bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru.

“Alat tersebut memang wajib ada di Pelabuhan dan Bandara berskala internasional, karena jika terjadi wabah penyakit menular di negara asal penumpang, maka thermo scanner ini menjadi alat deteksi dini kepada penumpang, apakah terinfeksi penyakit menular di negara asalnya atau tidak,” jelas Alwizar.

Namun berdasarkan informasi dari KKP Wiker Bengkalis, thermo scaner di Pelabuhan internasional Bandar Sri Seta Raja di Selatbaru mengalami kerusakan.

Terkait dengan hal itu, Dinas Kesehatan akan koordinasi lebih lanjut dengan KKP Kelas III Dumai, agar alat tersebut segera diperbaiki. (Ant)

Lihat juga...