hut

Dinkes Temukan Ribuan Posyandu di NTB tak Berfungsi

Editor: Koko Triarko

MATARAM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat, menemukan ribuan Posyandu yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota NTB, tidak berfungsi dengan baik sebagai tempat masyarakat melakukan konsultasi dan memberikan penyuluhan kesehatan di desa maupun kelurahan.

“Sebanyak 20 sampai 25 persen atau sekitar tujuh ribu Posyandu tidak aktif berjalan sebagaimana Posyandu lain,” kata Kepala Dinkes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, di Mataram, Jumat (14/6/2019).

Proses revitalisasi dilakukan menyangkut peningkatan kualitas pengetahuan dan kemampuan melakukan penanganan terhadap masalah kesehatan masyarakat, termasuk meningkatkan fasilitas pendukung, dengan demikian tidak ada lagi posyandu yang tidak aktif.

Kepala Dinkes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi/ Turmuzi

Sementara untuk Posyandu yang telah berjalan atau mandiri, kualitasnya akan terus ditingkatkan, sehingga benar-benar bisa menjadi posyandu yang mampu membantu pemerintah secara maksimal menangani masalah kesehatan masyarakat, terutama di tingkat desa dan kelurahan.

“Dengan memaksimalkan peran Posyandu, masalah kesehatan seperti stunting, gizi buruk bisa cepat dicegah atau ditangani” katanya.

Terkait anggaran revitalisasi, bersumber dari APBD Provinsi maupun kabupaten kota. Dinkes NTB pada prinsipnya hanya memfasilitasi, dengan menyiapkan fasilitator untuk selanjutnya melatih kader Posyandu yang dibiayai kabupaten/kota.

Selain dari APBD-P, proses revitalisasi Posyandu juga bersumber dari Dana Desa dan memang telah ditetapkan. Untuk peningkatan Posyandu yang telah aktif sudah bisa dilakukan dengan dana yang ada.

Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, sebelumnya mengatakan, kader posyandu merupakan ujung tombak Pemda NTB dalam hal membantu melakukan deteksi dini dan penanganan kesehatan masyarakat, termasuk penanganan masalah stunting dan gizi buruk, karena itu harus dimaksimalkan.

Mengingat kader Posyandu memiliki data lengkap, by name by address masalah stunting dan gizi buruk di daerahnya. Dari sisi pengetahuan tentang kondisi kesehatan masyarakat, kader Posyandu dinilai lebih memahami, karena berasal dari tempat yang sama.

Rohmi juga meminta supaya penanganan masalah kesehatan jangan sampai seperti pemadam kebakaran.

“Jangan sigap saat kasus muncul. Perlu langkah antisipatif dan preventif seperti deteksi dan pencegahan dini. Masalah kesehatan yang ada di NTB, harus dicari penyebabnya dari hulu,” katanya.

Lihat juga...