hut

Ditinggal Mudik Nelayan, Pelaku Usaha Teri Rebus Kesulitan Bahan Baku

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Tradisi ngebabang yang dijalankan oleh sejumlah awak kapal bagan congkel di Bakauheni, Lampung Selatan, turut berimbas pada sektor usaha teri rebus. Ngebabang adalah tradisi mudiknya para nelayan saat kondisi cuaca tidak bersahabat untuk melaut, sehingga pelaku usaha teri rebus kesulitan bahan baku.

Arman, pekerja pembuatan teri rebus di kawasan Muara Piluk, Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel,  menyebut sebagian nelayan memilih istirahat dan kru bagan congkel yang disebut bidak sementara pulang kampung.

Menurutnya, tradisi yang kerap dilakukan saat bulan purnama bisa berlangsung selama dua pekan, sembari menunggu musim membaik. Saat ngebabang berlangsung, sebagian nelayan asal daerah Banten, Lampung Timur dan wilayah lain  kembali bersama perahu sebagian meninggalkan perahu di sejumlah tempat pendaratan ikan.

Ia menyebut, hanya ada sejumlah nelayan lokal yang akan bertahan untuk mencari ikan dengan cara memancing. Sebaliknya, nelayan bagan congkel yang melakukan ngebabang akan beraktivitas normal saat bulan mati atau sudah berakhirnya fase purnama, yang berimbas pada pasang air laut, purnama juga dihindari nelayan karena cahaya bulan mengakibatkan ikan susah ditangkap.

Arman, pekerja di lokasi produksi teri Bakauheni memilih istrirahat menunggu adanya pasokan ikan teri -Foto: Henk Widi

“Nelayan bagan mini, bagan congkel mengandalkan kondisi perairan dalam kondisi gelap untuk penangkapan ikan, sehingga saat purnama memilih berhenti melaut, karena susah memperoleh semua jenis ikan,” ungkap Arman, Minggu (23/6/2019).

Ngebabang terlama diakui Arman saat bulan purnama berbarengan dengan musim angin timur. Pada musim angin timur disertai purnama, wilayah tangkapan yang ada di sepanjang pantai timur berisiko mengancam keselamatan perahu nelayan.

Ngebabang para nelayan disebutnya bisa berlangsung selama tiga pekan lebih. Selain banyak nelayan tidak mendapat ikan, pembuat teri rebus tidak memperoleh bahan baku.

Sejumlah bahan baku teri rebus yang masih diproduksi diakuinya merupakan stok lama. Sebab, saat produksi melimpah ikan teri disimpan dalam lemari pendingin. Sebagian teri yang sudah selesai dijemur akan dikemas selanjutnya dikirim ke pemesan.

Selama tidak ada teri yang diproduksi,sebagian pekerja memilih melakukan perbaikan laha atau alat menjemur teri.

Proses perawatan dan perbaikan laha kerap dilakukan saat bahan baku teri minim.

Kerusakan laha dengan bahan utama kayu dan strimin kerap terjadi dengan adanya lubang serta kerangka kayu yang rapuh. Selain perbaikan strimin, penggantian kayu juga dilakukan selama musim istirahat tersebut.

Tradisi ngebabang atau pulangnya nelayan ke kampung halaman juga berimbas pada usaha penjualan es balok.

Herman, salah satu penjual es balok, mengaku saat musim ikan teri dan ikan tangkapan nelayan lain ia mendapat banyak permintaan es balok.

Selama ngebabang, nelayan bagan kerap menyandarkan perahu bagan mini, bagan congkel di sungai Way Sekampung.

“Ngebabang musim ini sepertinya akan lebih lama, karena sebagian nelayan juga sibuk mengurus anaknya yang akan mendaftar sekolah,” ungkap Herman.

Pada kondisi normal, semua nelayan pesisir timur melaut, pedagang es balok di jalan lintas timur itu bisa menjual 30 balok dalam tiga hari. Namun akibat nelayan istirahat melaut, ia hanya menyediakan stok 20 es balok.

Beruntung, stok es balok masih sangat dibutuhkan bagi para petambak ikan bandeng dan udang vaname. Dijual seharga Rp35.000 per balok es ukuran 1 meter, permintaan akan kembali normal saat bulan purnama dan ngebabang berakhir.

Ngebabang para nelayan juga berimbas pada jasa angkut. Saat kondisi normal, sebagian nelayan yang mendapat hasil tangkapan banyak membutuhkan tenaga kerja pengangkut. Tenaga kerja tersebut terutama dibutuhkan saat proses pemindahan hasil tangkapan dari kapal ke tempat pendaratan ikan.

Lokasi pendaratan ikan di sepanjang pesisir timur, di antaranya tempat pendaratan ikan (TPI) Muara Piluk, Ketapang, Keramat hingga Labuhan Maringgai.

Lihat juga...