Drg Romi Syofpa Ismael, Peserta Seleksi CPNS yang Batal Diangkat Menjadi PNS

Editor: Mahadeva

PADANG – Pemprov Sumatra Barat akan memperjuangkan nasib Drg Romi Syofpa Ismael, peserta seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 Solok Selatan, yang batal diangkat menjadi PNS.

Padahal, dokter yang juga seorang penyandang disabilitas tersebut, lulus dari seluruh rangkaian tes seleksi. Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, Pemkab Solok Selatan perlu memberikan keadilan kepada semua orang. Jika yang bersangkutan telah lulus dari seluruh jenjang seleksi, maka tidak ada alasan pada saat proses pengangatan jadi PNS, terjadi pembatalan.

“Kita sangat menyayangkan adanya kejadian seperti ini, yang mana ada peserta CPNS yang merupakan dokter gigi di Solok Selatan yang batal diangkat jadi PNS, padahal jelas-jelas yang bersangkutan lulus tes,” katanya, Selasa (11/6/2019).

Nasrul mengaku tidak mengetahui alasan pembatalan pengangkatan. Namun, dirinya akan membentuk tim untuk menuntaskan persoalan tersebut. Tim tersebut terdiri dari sejumlah pegawai dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat dan beberapa pihak lain, sebagai upaya mencari akar permasalahan dan penyelesaiannya.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit/Foto: M. Noli Hendra

“Kita akan bentuk tim selesaikan persoalan ini. Sebab beliau setelah diuji dapat bekerja dengan baik. Serta, berdasarkan undang-undang, beliau juga layak untuk diangkat jadi PNS. Maka, diharapkan Pemkab Solok Selatan memberikan haknya,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, Merry Yuliesday, mengungkapkan, pihaknya telah merapatkan bersama jajaran-nya terkait persoalan tersebut. Pertemuan juga melibatkan stakholder terkait. Harapannya, persoalan yang menimpa Drg Romi Syofpa Ismael, dapat segera terselesaikan oleh Pemkab Solok Selatan.

“Kami telah rapatkan dengan Asisten III Provinsi, BKD Provinsi, Dinas Sosial, agar hak beliau dapat dipertimbangkan kembali keputusan pembatalan pengangkatan itu. Hasil rapat kita dengan gubernur akan segera menyurati Bupati Solok Selatan, sebab sesuai dengan dokumen beliau lengkap dan juga layak untuk bekerja,” tukasnya.

Menurutnya, hal yang perlu dipahami ialah yang bersangkutan telah menyelesaikan segala ujian, dan semuanya lulus. Merry berharap, pihak Pemkab Solok Selatan tidak mempersoalkan soal kondisi fisik yang bersangkutan yang kesehariannya menggunakan kursi roda. Karena semua orang berhak jadi PNS asalkan lulus dari segera ujiannya.

“Dokter gigi itu yang bekerja tangannya, jadi saya berharap sebelum diketahui alasan dibatalkan, kalau disebutkan soal fisik, maka Pemkab Solok Selatan keliru. Saya menginginkan yang bersangkutan menerima haknya dan segera diangkat jadi PNS,” tandasnya.

Sebelumnya, Drg Romi Syofpa Ismael dinyatakan batal lulus pada Formasi Umum CPNS 2018 jabatan Dokter Gigi Ahli Pertama dengan lokasi formasi Puskesmas Talunan. Bupati Solok Selatan dalam pengumumannya nomor 800/40/IX/BKPSDM/BUP-/2018 menyatakan, beliau tidak sehat secara jasmani dan rohani sesuai dengan persyaratan jabatan yang dilamar.

Terpisah, Wali Nagari Talunan Maju Kecamatan Sangir Balai  Janggo Kabupaten Solok Selatan, Suwardi, dalam keterangan tertulisnya menyatakan, Romi Syofpa Ismael, merupakan warga negara yang berkelakuan baik. Di 2016 tepatnya di Juli setelah melakukan proses melahirkan, Romi Syofpa Ismael mengalami paraplegia, yang memaksa Dia harus menggunakan alat bantu kursi roda untuk aktivitas sehari-hari.

Namun demikian, selama ini Romi Syofpa Ismael disebutnya, tidak mengalami hambatan apapun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di rumah tangganya maupun kampungnya.  Selain itu, berdasarkan surat keterangan kesehatan Nomor 400/089/TU-Umum/SKK/I/RS-2019 yang ditandatangani Ketua Tim Pemeriksa Kesehatan RSUD Solok Selatan Deni Arisanti, Romi Syofpa Ismael, yang biasa bekerja sebagai karyawan honorer dinyatakan sehat dengan catatan kedua lengan normal dan ditemukan kelemahan otot kedua tungkai.

Untuk melakukan tindak lanjut dalam menjalankan pekerjaan sesuai formasi yang dibutuhkan, Romi Syofpa Ismael disarankan melalui assiment ahli terapi okupasi. Tak cukup sampai disitu, Kepala Dinas Kesehatan Solok Selatan, Novirman, dalam keterangan tertulisnya juga menyatakan, selama dalam pengabdian, Romi Syofpa Ismael, juga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Tenaga Fungsional Dokter Gigi pada Unit Kerja/Layanan/Pusat Kesehatan Masyarakat/Primer.

Namun, tetap saja Romi Syofpa Ismael dinyatakan batal lulus, karena tidak sehat jasmani dan rohani. Hal itu membuatnya mengadu kepada Pemrov Sumatera Barat.

Lihat juga...