hut

Dua Kabupaten di NTT Penuhi Syarat Eliminasi Malaria

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pemerintah provinsi NTT telah menargetkan percepatan eliminasi malaria pada tahun 2023. Sesuai peta jalan, tahun 2019 ini terdapat 4 kabupaten ditargetkan mencapai tahap eliminasi yakni Kota Kupang, TTU, Manggarai dan Manggarai Timur.

Pada tahun 2019 juga, ada 8 kabupaten ditargetkan mencapai tahap praeliminasi malaria yakni Timor Tengah Selatan, Flores Timur, Manggarai Barat, Kupang, Nagekeo, Sikka, Rote Ndao dan Ngada.

“Realisasinya, hanya dua daerah yakni Kota Kupang dan Manggarai yang memenuhi syarat dilakukan praasesmen malaria pada bulan Desember 2018,” sebut dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Jumat (21/6/2019).

Kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH. Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Maria, praasesmen ini menunjukkan 8 item kekurangan yang harus dilengkapi sebelum mengajukan ke tahap asesmen. Salah satu kekurangan yakni belum ada koordinasi lintas batas.

Dalam menyiapkan kabupaten Sikka memasuki tahap eliminasi dan prapenilaian eliminasi di tahun 2020, sebutnya, dibutuhkan pertemuan koordinasi lintas batas program malaria dan persiapan penilaian eliminasi malaria di Sikka.

“Maka telah diadakan pertemuan untuk melakukan validasi data program malaria tingkat puskesmas, rumah sakit dan kabupaten. Membentuk tim eliminasi malaria di Sikka dan tercapainya kesepakatan antarkabupaten Sikka dengan Flores Timur dan Ende tentang koordinasi lintas batas dalam eliminasi malaria di Sikka,” ungkapnya.

Pertemuan lintas batas tegas Maria, dibutuhkan bukan hanya pada penyakit malaria tetapi terhadap rabies dan penyakit lainnya. Ini penting karena migrasi penularan dan vektor berlangsung lintas batas.

Urusan penyakit juga tandasnya, harus lintas batas karena banyak kasus impor, misalnya ada orang datang dari Papua, tidak hanya bawa hadiah tetapi juga bawa parasit. Ini harus jadi perhatian petugas kesehatan.

“Pertemuan yang telah kami lakukan tersebut untuk melihat kembali upaya, preventif, promotif, kuratif dan rehabilitasi serta pencatatan-pencatatan. Kadangkala ada hal yang sudah dilakukan, tapi tidak dicatat dengan baik,” sebutnya.

Pengendalian malaria lintas batas ini sangat penting kata Maria, sebab adanya nyamuk penular malaria dan tempat perindukannya di perbatasan dan terinfeksi parasit malaria menimbulkan kesakitan. Serta penularan malaria di sepanjang daerah perbatasan tersebut.

Selain itu, adanya migrasi penduduk yang membawa parasit malaria melintasi perbatasan, menimbulkan kesakitan. Juga penularan baru di wilayah yang tersedia nyamuk penularnya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan NTT, dr. Theresia Sarlyn Ralo, mengatakan, pertemuan validasi bertujuan mempersiapkan kabupaten Sikka memasuki tahap praeliminasi malaria dan prapenilaian eliminasi malaria pada 2020.

“Pada 2021 nanti, diharapkan tidak boleh ada lagi kasus penularan malaria lokal di kabupaten Sikka, Ende dan Flores Timur. Bila masih ditemukan berarti bukan datang dari tiga kabupaten itu,” ujarnya.

Theresia meminta petugas kesehatan melakukan penyelidikan epidemologi secara benar. Selain itu, jika masih ditemukan penderita malaria, petugas kesehatan setempat harus mencari tahu asal penyakit tersebut untuk selanjutnya diblokir agar tidak berkembang.

“Untuk mencegah penularan malaria dari daerah lain, seluruh orang yang baru kembali dari daerah endemis malaria seperti Papua, diwajibkan diperiksa. Dari data yang ada, banyak penderita malaria di Sikka diketahui baru kembali dari daerah endemis malaria seperti Papua,” sarannya.

Lihat juga...