Ekonomi Kreatif Membantu Menekan Angka Kemiskinan di Palembang

Sektor ekonomi kreatif dengan 15 subsektornya, diharapkan dapat menekan angka kemiskinan di Palembang menjadi satu digit. Target tersebut diharapkan tercapai di 2022 - Foto Ant

PALEMBANG – Sektor ekonomi kreatif dengan 15 subsektornya, diharapkan dapat menekan angka kemiskinan di Palembang menjadi satu digit. Target tersebut diharapkan tercapai di 2022.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda Litbang) Kota Palembang, Harrey Hadi, mengatakan, ekonomi kreatif lambat laun menjadi tulang punggung pembangunan di kota tersebut.

“Selama ini Palembang mengembangkan sektor pariwisata dengan segala macam keterkaitannya, termasuk ekonomi kreatif. Dengan demikian, memajukan sektor ekraf ini menjadi pilihan penting, baik kuliner, kriya, fesyen dan olahraga,” ujar Harrey, Rabu (12/6/2019).

Pengembangan ekonomi kreatif, bersama sektor lain seperti jasa dan industri diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatannya, diimplementasikan melalui program yang sesuai RPJMD Kota Palembang 2018-2023.

Menurut data terbaru, angka kemiskinan di Kota Palembang mencapai 10,95 persen. Dua tahun mendatang, angka tersebut ditargetkan berada di bawah 10 persen, seiring upaya pengembangan ekonomi kreatif.

“Bantuan kepada masyarakat miskin di lakukan lintas sektoral dengan pemberian modal usaha dan meluncurkan program-program inovatif, selain itu pemkot melaksanakan pembenahan infrastruktur serta aksesibilitas, ini semua yang akan memperkuat pertumbuhan ekraf di Palembang,” jelasnya.

Saat ini Pemkot Palembang berupaya menduduki empat besar kota kreatif di Indonesia, agar mendapat pembinaan langsung dan khusus dari pemerintah pusat.  “Fokus Palembang ekonomi kreatif kriya, fesyen dan kuliner, untuk kuliner ini utamanya pempek, karena pempek sudah seharusnya dikenal lebih luas lagi tidak hanya aspek makananya saja tapi juga sejarah dan lain-lainnya,” kata Harrey.

Namun pengoptimalan sektor ekonomi kreatif, bukan kerja pemerintah semata. Dibutuhkan, kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah dan media menjadi faktor penting berkembangnya ekonomi kreatif yang berujung pada kesejahteraan masyarakat. (Ant)

Lihat juga...