Festival Sindoro Sumbing untuk Memperkuat Ekosistem Budaya Lokal

Masyarakat Desa Lamuk Gunung, Kabupaten Temanggung, melintas di depan backdrop Festival Sindoro Sumbing pada Selasa (25/6/2019) - Foto Ant

TEMANGGUNG – Festival Sindoro Sumbing yang digelar antara Juni hingga Juli 2019, sebagai upaya memperkuat eksosistem kebudayaan lokal masyarakat di sekitar Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Mereka adalah, masyarakat dari Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Festival yang didukung wadah Indonesiana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dilaksanakan secara gotong-royong antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan pihak swasta.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Temanggung, Woro Anjani, di Temanggung, mengatakan festival tersebut digelar bersama dengan beberapa komunitas di beberapa desa. Pemuda dari karang taruna juga terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

“Dengan adanya festival di dalam wadah Indonesiana, akan tercipta ekosistem kebudayaan. Kami harap ini dapat dilakukan di semua acara yang ada di Temanggung,” tandasnya.

Pada 25-27 Juni, Festival Sindoro Sumbing fokus pada kesenian Jaran Kepang Temanggung. Di Temanggung ada sekitar 700 kelompok seni, yang menjadikan Jaran Kepang sebagai inti kegiatan berkesenian mereka.

Seiring perkembangan zaman, identitas Jaran Kepang juga mengalami perubahan. Oleh sebab itu, dalam kegiatan Sarasehan Budaya, para pegiat, seniman dan budayawan, berkumpul untuk membicarakan Jaran Kepang.

Direktur Festival Sindoro Sumbing, Imam Abdul Rofiq, mengatakan, ada 100 peserta dari 20 kecamatan di Temanggung yang terlibat dalam kegiatan tersebut. “Sarasehan dilaksanakan di Desa Lamuk Gunung karena di sini merupakan embrio dari Jaran Kepang Temanggung,” tandasnya.

Selain Jaran Kepang, kegiatan lainnya adalah Java International Folklore Festival featured ASEAN Contemporary Dance Festival, Bedhol Kedaton, Ruwat Cukur Rambut Gembel dan Pentas Tari Kolosal Topeng Lengger. (Ant)

Lihat juga...