hut

Gelombang Tinggi, Nelayan Kulon Progo Diimbau tidak Melaut

KULON PROGO — Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau nelayan di sepanjang pantai di wilayah itu tidak melaut sementara sampai gelombang laut kembali normal.

Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sugiharto, menyebutkan Badan Mateorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan gelombang sepanjang pantai selatan mencapai empat hingga lima meter, sehingga cukup mengancam keselamatan nelayan jika tetap melaut.

“Kami mengimbau nelayan sementara tidak melaut terlebih dahulu, selama tiga sampai lima hari ke depan,” kata Sugiharto di Kulon Progo, Kamis (13/6/2019).

Ia mengatakan sampai hari ini, gelombang tinggi belum berdampak pada nelayan. Gelombang tinggi biasanya terjadi pada malam hari hingga pagi.

“Nelayan memiliki prediksi sendiri, kalau pagi ada gelombang besar maka tidak melaut dan saat gelombang kecil melaut. Sehingga saat ada gelomgang besar, nelayan mengerjakan pekerjaan lainnya seperti bertani dan budi daya tambak udang,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulon Progo Aris Widiatmoko mengatakan gelombang tinggi muncul di laut selatan DIY sejak 10 Juni hingga Kamis ini.

Di Pantai Trisik, Kecamatan Galur, terjangan ombak pasang merusak sejumlah bangunan dan nyaris menghanyutkan beberapa wisatawan.

Tak hanya merusak bangunan, terjangan ombak juga sempat menyeret dua orang wisatawan yang tengah bersantai di pinggir pantai. Mereka adalah pasangan suami istri, asal Kecamatan Sentolo, Anto (55) dan Wagiyem (53).

Petugas SRI sebelumnya telah memperingatkan mereka. Namun sebelum beranjak, ombak besar mendadak datang dan menyapu tubuh kedua korban. “Korban sempat terguling sampai terhantam kayu dan lecet-lecet, kami langsung datang untuk melakukan pertolongan dan mengobati luka mereka,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!