Inflasi di Kota Manado 2,60 Persen, Tertinggi di Sulawesi

Ilustrasi - Pasar - Dok CDN

MANADO – Inflasi Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara,  pada Mei 2019, menjadi yang tertinggi di seluruh kota di Pulau Sulawesi.

“Kota Manado pada Mei 2019 mengalami inflasi sebesar 2,60 persen, inflasi tahun kalender sebesar 1,14 persen dan inflasi year on year sebesar 2,11 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Dr. Ateng Hartono, di Manado, Senin (10/6/2019).

Dia mengatakan, inflasi tersebut dipicu oleh peningkatan indeks pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 12,88 persen, khususnya tomat sayur sebesar 2,13 persen.

Setelah Kota Manado, diikuti Kota Kendari sebesar 1,80 persen, Gorontalo 1,64 persen, Pare-pare 1m36 persen, Palu 0,97 persen, Bulukumba 0,90 persen, Watampone 0,73 persen, Makassar 0,73 persen, Mamuju 0,62 persen, Palopo 0,54 persen kemudian Bau-bau 0,15 persen.

BPS telah melakukan pemantauan di 82 kota di Indonesia. Dari 82 kota tersebut, sebanyak 81 kota mengalami inflasi, sedangkan 1 kota mengalami deflasi.

BPS menyebutkan, inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,91 persen, dan inflasi terendah di Kediri sebesar 0,05 persen. Sebaliknya, deflasi terjadi di Merauke sebesar 0,49 persen.

Dia menjelaskan, inflasi Kota Manado pada Mei 2019 disebabkan peningkatan pada kelompok pengeluaran sandang sebesar 0,67 persen, kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,12 persen.

Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,28 persen dan kelompok pengeluaran transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,42 persen.

Kelompok pengeluaran kesehatan serta kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami perubahan.

Komoditas yang memberikan sumbangan/andil terbesar terhadap inflasi Kota Manado adalah tomat sayur sebesar 2,13 persen, cabai rawit sebesar 0,3847 persen, pepaya sebesar 0,0791 persen, cakalang/sisik sebesar 0,0776 persen, telur ayam ras sebesar 0,0724 persen, tindarung sebesar 0,064 persen, bawang putih sebesar 0,0631 persen. Kemudian, kangkung sebesar 0,0454 persen, bawang merah sebesar 0,0317 persen, dan cabai merah sebesar 0,0301 persen.

Komoditas yang memberikan sumbangan/andil deflasi terbesar adalah bahan bakar rumah tangga sebesar 0,3673 persen, beras sebesar 0,1394 persen, angkutan udara sebesar 0,0492 persen, tarif pulsa ponsel sebesar 0,0428 persen, lemon sebesar 0,0188 persen, cakalang asap sebesar 0,0145 persen, jeruk nipis/limau sebesar 0,0088 persen, pisang sebesar 0,0062 persen, kol putih/kubis sebesar 0,0037 persen dan sawi hijau sebesar 0,0033 persen. (Ant)

Lihat juga...