hut

Injeksi Tanpa Jarum untuk Turunkan Potensi Fobia

Editor: Mahadeva

Mahdian Nur Nasution, SpBS memaparkan proses injeksi tanpa jarum suntik untuk mengurangi fobia – Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Inovasi tindakan sunat tanpa jarum suntik mulai berkembang di Indonesia. Upaya tersebut diaplikasikan, untuk menghindari trauma terhadap jarum suntik, yang berpotensi menimbulkan fobia. 

Data The American Psychiatric Association, ada 10 persen warga dunia yang mengalami fobia jarum suntik. Biasanya, mereka yang fobia memilih menghindari perawatan medis dengan jarum suntik. Sehingga akan menghambat proses perawatan, jika terkena penyakit.

Praktisi medis, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, menyebut, teknologi sunat tanpa jarum atau needle-free injection, saat ini sudah dipergunakan instansi medis di Indonesia. Teknologi tersebut berasal dari Korea.

“Saat ini kita masih impor teknologinya dari Korea. Disana biasanya dipergunakan untuk perawatan kecantikan atau estetika. Jadi yang sering menggunakan teknologi ini adalah dokter kulit atau dokter gigi,” kata dr. Mahdian, Rabu (19/6/2019).

Peralatan needle-free injection yang diimpor dari Korea untuk menerapkan injeksi tanpa jarum suntik – Foto Ranny Supusepa

Teknologi tersebut menggunakan tiga komponen utama, yaitu alat semprot cairan anestesi yang terbuat dari kaca, injektor dan pompa injektor. “Sistem injektornya menggunakan tenaga pegas yang dapat disesuaikan dengan kekuatan penetrasi ke kulit sesuai dengan kebutuhan. Kalau tekanan besar maka nozzle akan masuk lebih dalam,” tutur dr. Mahdian lebih lanjut.

Kebutuhan tekanan nozzle bergantung pada tebal dan tipis kulit pasien. Kalau anak kecil, biasanya tipis. Dan semakin bertambah umur, akan semakin tebal. “Jadi mekanisme pemberian anestesi ini dengan mengantarkan caranya obat ke dalam lapisan kulit melalui jaringan subkutan. Dengan kecepatan tinggi oleh tenaga pegas, obat dapat berpenetrasi ke dalam kulit melalui lubang yang sangat kecil,” paparnya.

Penggunaan teknologi injeksi tanpa jarum suntik tersebut, akan menghindari reaksi dari tubuh pasien. “Reaksi dari penyuntikan itu bisa rasa nyeri, kulit biru, maupun bengkak. Itu yang kita coba untuk hilangkan. Karena reaksi ini mampu memicu trauma,” tandas dr. Mahdian.

Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan para ahli, selain menghindari fobia jarum suntik, teknologi needle-free injection memiliki berbagai manfaat lain. Menghindari cedera kulit, obat masuk dengan lebih baik ke dalam tubuh, menjaga kestabilan obat saat penyimpanan, menghindari rekonstitusi dan shearing serta meningkatkan respon daya tahan tubuh pada vaksin imunisasi.

Hanya saja, teknologi tersebut masih mahal dan membutuhkan tenaga ahli untuk mengoperasikan. Sistem needle-free injection tidak dapat mencapai jalur intravena tubuh.

Lihat juga...