hut

Januari-Mei 2019, Warga Balikpapan Terdeteksi HIV 258 Orang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BALIKPAPAN – Pada Januari hingga Mei 2019, jumlah warga yang terdeteksi menderita virus HIV/AIDS di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, mencapai 258 orang yang terdiri laki-laki sebanyak 159 orang dan 38 diantaranya telah masuk ke fase AIDS. Sementara perempuan sebanyak 99 orang dan 36 orang masuk fase AIDS.

Maka hingga kini jumlah penderita HIV/AIDS tercatat sebanyak 2.308 orang. Angka itu didapatkan dari layanan testing dan konseling yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan melalui Puskesmas.

“Sejak 2005 hingga sekarang, juga terdapat pengidap HIV/AIDS yang meninggal dunia. Di tahun 2016, ada 12 orang yang meninggal. Tahun 2017 ada 58 orang, tahun 2018 ada 49 orang. Dan di tahun 2019 berjalan ini sudah ada 19 orang,” jelas Pelaksana Tugas, Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Suheriyono, Rabu (19/6/2019).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Suheriyono – Foto: Ferry Cahyanti

Ada perubahan tren penyebaran HIV tahun 1990-an dengan tahun 2000-an, terutama tahun 2010 ke atas.

Lanjut Suheriyono, jika dulu mayoritas karena penggunaan jarum suntik, kini bergeser ke perilaku seks bebas.

“Jadi karena perilaku seks berisiko, yaitu hubungan seks yang dilakukan dengan bukan satu pasangan tetap atau sah dan tidak menggunakan pengaman,” terangnya.

Dengan jumlah pengidap HIV/AIDS yang terus meningkat tersebut, pihaknya terus melakukan penyuluhan bahaya penyakit tersebut. Penyuluhan dilakukan dari tingkat RT hingga ke sekolah-sekolah.

“Petugas yang menyuluh dari Puskesmas. Banyak juga dilakukan dalam pertemuan lintas sektor bersama masyarakat,” tandasnya.

Selain penyuluhan petugas dari penyuluh juga melakukan screening atau pemindaian di lokasi-lokasi rawan atau potensi penyebaran HIV/AIDS. “Termasuk ke panti pijat, Rutan dan Lapas, juga kafe,” tandasnya.

Dipilihnya lokasi tersebut dikarenakan tempat berkumpul komunitas. Terlebih sejak penutupan dan pembongkaran lokalisasi Lembah Harapan Baru Km 17 dan Manggarsari membuat Dinas Kesehatan kesulitan melakukan pemetaan.

“Kalau dulu ada lokalisasi, maka petugas kami langsung ke tempat itu untuk screening. Sekarang kan sudah tidak ada, jadi kami menyebar ke Rutan, Lapas sampai kafe-kafe,” bilang Suheri.

Orang yang telah divonis HIV/AIDS tidak bisa sembuh dan penderita bisa menggunakan pelayanan pengobatan medis tersedia di Puskesmas serta Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo.

Lihat juga...