hut

Jelang Panen Raya, Harga Cengkih di Lamsel Merosot Tajam

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Harga cengkih (Syzygium aromaticum) yang dihasilkan pekebun di kaki Gunung Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) terus merosot.

Merosotnya harga tersebut diakui oleh Budi, salah satu petani cengkih warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan Lamsel. Ia menyebut harga cengkih yang terus menurun terjadi akibat melimpahnya hasil panen petani di kawasan lingkar Gunung Rajabasa.

Budi menyebut panen komoditas rempah dengan aroma khas tersebut mulai berlangsung sejak awal tahun. Proses pemanenan secara bertahap dan sebagian serentak membuat pasokan cengkih di pengepul meningkat.

Dari satu pekebun cengkih dengan jumlah batang lebih, dari 500 hasil panen bisa mencapai 1 ton. Pasokan melimpah cengkih membuat harga di level petani untuk cengkih kering berada di bawah harga Rp70.000 per kilogram.

Budi, salah satu petani memanen cengkih menggunakan tangga – Foto: Henk Widi

Harga di tingkat petani menurut Budi bisa merosot hingga setengah harga saat awal tahun. Pada awal tahun, Budi menyebut harga cengkih di level petani bisa mencapai Rp150.000 per kilogram.

Pada periode selanjutnya bertepatan dengan bulan suci Ramadan harga mencapai Rp100.000. Usai lebaran Idul Fitri harga merosot hingga Rp85.000 sebagian pengepul hanya membeli seharga Rp65.000 per kilogram.

“Faktor utama ditengarai karena awal tahun belum banyak petani melakukan panen karena buah cengkih belum waktunya dipanen sehingga stok minim dan berimbas harga naik,” ungkap Budi salah satu petani cengkih saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (15/6/2019).

Harga cengkih dengan kisaran Rp65.000 menurut Budi akan sulit untuk naik. Sebab dari sekitar puluhan desa yang ada di lingkar kaki Gunung Rajabasa memiliki kebun cengkih hingga ratusan hektare.

Satu petani umumnya memiliki sekitar 400 hingga 1000 batang cengkih dengan usia berbeda mulai 5 tahun hingga mencapai 15 tahun. Hasil panen yang dihasilkan menurutnya menyesuaikan usia tanaman.

Panen cengkih menurut Budi bersamaan dengan masa panen kakao yang ditanam dengan sistem tumpang sari. Ia menyebut cengkih yang dipanen setahun sekali tersebut menjadi sumber penghasilan tahunan.

Dengan asumsi harga per kilogram Rp50.000 dalam kondisi kering dan panen sebanyak 100 kilogram saja ia bisa mendapatkan hasil Rp5 juta. Hasil bisa lebih tinggi menyesuaikan harga komoditas tersebut.

Pemilik sekitar 500 batang pohon cengkih bernama Siti Nurjanah menyebut ia mulai memanen cengkih usia lima tahun. Sebagai pohon yang baru belajar berbuah, cengkih hanya menghasilkan rata-rata 5 hingga 10 kilogram.

Saat tanaman mulai berusia lebih dari 10 tahun hasil buah cengkih dipastikan akan semakin banyak hingga 15 kilogram per pohon.

Siti Nurjanah menyebut hasil panen cengkih yang dihasilkan akan dijemur terlebih dahulu. Cengkih selanjutnya akan dijual langsung ke pengepul. Setiap pengepul menurutnya memiliki harga beli yang berbeda.

Pada sejumlah pengepul di Kalianda harga per kilogram cengkih bisa mencapai Rp85.000 sementara di Desa Rawi hanya mencapai Rp65.000 per kilogram.

“Kami sebagian memilih menjual cengkih ke kota Kalianda karena harga lebih tinggi sekaligus berbelanja,” ungkap Siti Nurjanah.

Komoditas cengkih menurut Siti Nurjanah menjadi salah satu investasi hijau jangka panjang. Berkat menanam cengkih ia menyebut bisa membiayai kuliah sang anak.

Cengkih yang sudah selesai dipanen dan kering menurutnya bisa disimpan dalam waktu lama. Sebab cengkih bisa dijual saat harga menjanjikan dengan harga lebih dari Rp100.000 per kilogram.

Bagi Andi, petani lain pemilik kebun cengkih, petani memilih langsung menjual hasil panen. Pasalnya ia tidak memiliki ruang penyimpanan khusus. Meski harga anjlok pada angka Rp65.000 ia memastikan masih bisa memperoleh keuntungan.

Keuntungan yang diperoleh diakuinya dipergunakan untuk tabungan. Meski anjlok, memasuki masa kemarau dimana ia susah menggarap lahan sawah, hasil panen cengkih bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga termasuk untuk pendidikan anak.

Lihat juga...