Jumlah Petani Tembakau di Sleman Terus Berkurang

Petani tembakau, -Dok: CDN

YOGYAKARTA – Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, menargetkan luas tanam tembakau untuk musim kemarau 2019 bisa mencapai sekitar 477 hektare.

“Target luas tanam tahun ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya, memang diakui ada tren penurunan luas lahan tembakau setiap tahun,” kata Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Edi Sri Harmanto, di Sleman, Sabtu (29/6/2019).

Menurut dia, selain jumlah petani yang setiap tahun mulai turun, luas lahan tembakau di Sleman juga semakin susut.

“Pada 2016, luas lahan yang ditanami tembakau sekitar 1.300 hektare, kemudian menyusut menjadi 650 hektare pada 2017 dan menyusut lagi di 2018 menjadi sekitar 400-an hektare. Biasanya petani tembakau pada beralih ke cabai,” katanya.

Menurut dia, petani tembakau biasanya hanya orang-orang tertentu. Jika dari awal memang tidak konsisten menanam tembakau, para petani tidak mau terlalu mengambil risiko dan tidak ingin coba-coba.

“Sehingga untuk mengembangkan petani tembakau ini sulit, kalau tidak berpengalaman mereka tidak berani,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini lahan tembakau yang ada di Sleman tersebar di Kecamatan Tempel, Cangkringan, Ngaglik, Ngemplak, Kalasan dan Seyegan.

“Biasanya pada Mei dan Juni ini sudah mulai masa tanam tembakau. Namun tahun ini, mundur pada akhir Juni,” katanya.

Edi mengatakan, pihaknya juga tidak mematok target panen tembakau pada tahun ini. “Pada dasarnya kualitas tembakau Sleman itu baik. Bahkan, sempat dipasok ke sejumlah perusahaan rokok besar juga,” katanya.

Petani tembakau di Kecamatan Kalasan, Wawan (44), mengatakan sejak beberapa tahun jumlah petani tembakau terus berkurang karena banyak yang merugi akibat kemarau basah.

“Kemarau basah beberapa tahun lalu berdampak pada kualitas dan harga jual tembakau yang rendah. Banyak petani yang tidak balik modal, sehingga mereka enggan menanam tembakau lagi. Harga jual tembakau grade A saja harganya sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram,” katanya.

Wawan mengatakan, musim tanam tahun ini dirinya menanam tembakau di lahan seluas empat hektare. “Biasanya satu hektare dapat menghasilkan enam hingga sembilan kuintal tembakau kering, kalau musimnya bagus,” katanya.

Ia mengatakan, pada musim tanam tembakau biasanya para petani tembakau mulai menanam kisaran Mei atau awal Juni. “Hanya saja karena bersamaan dengan Lebaran, musim tanam agak sedikit mundur. Ini baru mulai tanam, biasanya 70-80 hari sudah siap untuk petik pertama,” katanya. (Ant)

Lihat juga...