hut

Kampung Es Krim Jati Barong, Wisata Alternatif di Malang

Editor: Koko Triarko

MALANG – Tidak hanya terkenal dengan wisata alam yang indah, Kabupaten Malang juga memiliki destinasi wisata kampung tematik yang layak untuk dikunjungi, yakni Kampung Es Krim. Bukan hanya bisa menikmati kesegaran es krim hasil inovasi warga, di tempat ini pengunjung juga dapat belajar langsung cara membuat es krim.

Berawal dari keinginan untuk memajukan sekaligus mengangkat perekonomian di daerah tempat tinggalnya, Rohmat Basuki, menginisiasi terbentuknya destinasi wisata Kampung Es Krim di dusun Damean, Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Menurutnya, di wilayah Singosari sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Hanya saja belum banyak masyarakatnya yang tergerak untuk mengangkat potensi daerahnya.

“Saya sudah lama tinggal di sini, menikah dengan orang sini, dan mencari rezeki di sini. Sebab itu saya ingin berbuat sesuatu untuk mengangkat nama Singosari melalui Kampung Es Krim,” ujarnya.

Tercetusnya ide untuk membuat kampung Es Krim berawal saat dirinya bertemu dengan seorang teman yang baru keluar dari pabrik es krim ternama. Temannya tersebut berhasil menciptakan formula es krimnya sendiri.

Salah satu es krim yang dijual di Kampung Es Krim -Foto: Agus Nurchaliq

“Dari situ saya tertarik untuk berbisnis es krim, dan kemudian saya beli resepnya. Setelah saya beli resepnya, kemudian saya diajari caranya membuat berbagai jenis es krim, baik yang soft maupun yang hard,” akunya.

Setelah ahli membuat es krim, Basuki kemudian mengajak Karang Taruna di daerahnya untuk diajari membuat es krim. Tidak hanya Karang  Taruna, Basuki juga menularkan ilmunya tersebut kepada warga masyarakat, terutama kepada Ibu-ibu PKK di  RT 02 RW 03.

“Saya ajarkan mereka cara dasar membuat es krim untuk kemudian dikembangkan sendiri dengan inovasinya masing-masing. Alhamdulillah, ternyata berhasil dan kami banyak menerima pesanan untuk acara-acara pesta,” terangnya.

Konsep yang dikembangkan adalah semua warga bisa menjadi marketing, dan semua bisa menjadi produsen, sehingga bisa saling bantu.

“Misalkan Bu RT dapat pesanan seribu cup, tidak mungkin dikerjakan sendiri karena kapasitas frezernya tidak mencukupi, sehingga pesanannya harus dibagi ke warga lainnya,” ungkapnya.

Tugas Pak RT mengirim pesanannya, setelah uangnya cair, baru dibagikan ke warga. Jadi, tidak ada istilah merusak harga karena harganya sama semua.

Dari situ kemudian Basuki bersama warga mengembangkan usaha es krim tersebut dengan membuat cafe outdoor yang memanfaatkan lahan tidur milik salah satu warga.

“Dulu tempat ini hanya dijadikan sembagai tempat pembuangan sampah. Kemudiam kami bersama warga menjadikannya cafe outdoor dengan nama Kampung Es Krim Jati Barong, di bawah pohon jati dekat barongan,” sebutnya.

Konsep kafe yang diangkat adalah kembali ke peradaban desa. Dengan tujuan agar masyarakat, khususnya anak-anak bisa datang ke sana untuk melupakan sejenak gadget.

Disampaikan Basuki, di Kampung Es Krim Jati Barong, pengunjung bisa menikmati aneka jenis es krim hasil kreasi warga, dengan harga terjangkau, mulai dari Rp 2.500-5.000. Macam es krim di antaranya rujak es krim, es krim mangkok, es krim sandwich, pie es krim, brownis es krim, es krim cone dan masih banyak lagi jenis es krim yang bisa dinikmati.

Selain dapat membeli dan menikmati es krim di tempat yang nyaman, tenang dan teduh di bawah pohon jati, pengunjung juga bisa melakukan aktivitas memancing.

Inisiator Kampung Es Krim, Rohmat Basuki (kiri) bersama warga dan anggota Karang Taruna -Foto: Agus Nurchaliq

“Ke depan juga akan kita tambahkan wahana Cikar untuk mengajak pengunjung berkeliling desa menikmati suasana alam pedesaan. Serta permainan tradisional,” sebutnya.

Kampung Es Krim juga siap menerima kunjungan kelompok masyarakat yang ingin belajar membuat es krim, dengan biaya Rp25 ribu per orang.

“Dengan biaya tersebut, mereka akan diajarkan cara membuat es krim yang simpel, cepat, mudah dan sehat,” jelasnya.

Selain kerap menerima kunjungan dari luar wilayah Malang, Kampung Es Krim juga sudah pernah menerima kunjungan dari mahasiswa Malaysia.

Sementara itu, pembina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Heri Sutanto, mengatakan, hadirnya Kampung Es Krim ternyata mampu memberdayakan masyarakat, khususnya warga RT 02 RW 03.

“Kampung ini juga pernah meraih juara I lomba Sinergitas Kerja Kecamatan Bidang Ekonomi Tingkat Kabupaten. Serta mewakili Kabupaten Malang di tingkat Provinsi Jawa Timur,” sebutnya.

Untuk saat ini, Kampung Es Krim hanya buka pada hari Minggu dan hari libur.

Hal yang sama juga disampaikan Ibu RT 02, Sunarlin. Menurutnya, terbentuknya kampung es krim selain bisa memberdayakan masyarakat, juga bisa membantu meningkatkan perekonomian warga di wilayahnya.

“Saya bersyukur, karena warga bisa menambah penghasilan dengan berjualan es krim. Karena kebanyakan Ibu-ibu di sini menganggur, hanya menjadi ibu rumah tangga,” pungkasnya.

Lihat juga...