Kasus Kematian Akibat DBD di Balikpapan Bertambah

Editor: Mahadeva

BALIKPAPAN – Kasus kematian akibat penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Balikpapan bertambah lagi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan hingga pertengahan Juni 2019 ini, atau pada minggu ke-24, jumlah kematian mencapai delapan kasus.

Pelaksana Tugas Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Suheriyono – Foto Ferry Cahyanti

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Suheriyono, menjelaskan, jumlah kematian karena DBD, sebelumnya hanya tujuh kejadian. Sedangkan kasusnya tercatat mencapai 1.390 hingga Minggu ke-24.  “Kasusnya seminggu yang lalu, laporannya dari Rumah Sakit Kanujoso, tidak dibawa ke Puskesmas. Laporannya terlambat dibawa ke rumah sakit,” ujar Suheriyono, Selasa (25/6/2019).

Setelah adanya kasus kematian tersebut, pihak Puskesmas langsung melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Kasus kematian karena DBD terjadi di kelurahan Gunung Samarinda. “Setelah melakukan PE, tim Puskesmas menemukan adanya jentik nyamuk disekitarnya, sehingga langsung dilakukan pencegahan dengan memutus virus DBD,” paparnya.

Esther Vonny K, MMR, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendali Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, memaparkan, setelah dilakukan epidemiologi langsung melakukan fogging. “Untuk kasus yang baru itu, korban terkena demam selama tujuh hari di rumah, orang tua terlambat membawa ke sarana kesehatan, ketika dibawa ke rumah sakit Kanujodoso Djatiwobowo (RSKD), setelah dirawat dua hari meninggal,” urainya. 

Menurutnya, penyakit DBD ini bukan seperti penyakit lain. Ketika habis terkena penyakit pasien bisa memiliki kekebalan. Namun, kalau DBD resistantnya lemah, kena kedua kalinya pasti lebih gawat. “Ditambah lagi dengan masyarakat yang kadang-kadang menganggap demam itu biasa, sehingga pergi ke rumah sakit terlambat,” ujar Eshter Vonny.

DBD adalah penyakit berbasis lingkungan. Artinya, penyakit timbul karena lingkungan yang tidak sehat. “Mari jaga lingkungan terdekat, rumah kita bersihkan, kita awasi sendiri. Seharusnya disetiap rumah tangga harus memiliki jumantik sendiri, yang bisa memeriksa setiap hari bak mandi ada jentiknya atau tidak,” tandasnya.

Lihat juga...