Kemenangan

CERPEN SITI NK

SEJAK dibawa oleh para prajurit dari Alas Kethu ke tempat ini, aku hidup dalam kungkungan jeruji besi. Sejujurnya hidup di dalam jeruji besi tidak terlalu buruk. Para pawang merawatku dengan sangat telaten.

Makananku tidak pernah terlambat dihidangkan. Aku diberinya makan ayam-ayam gemuk yang segar agar kesehatanku terjaga. Jeruji besi yang menjadi rumahku juga selalu dibersihkan.

Terkadang aku dilepas di halaman kecil agar badanku bisa bergerak leluasa. Secara rutin ada pawang yang memancingku berlari-lari agar otot-otot kakiku tetap kokoh. Aku merasa tetap tangguh meskipun tidak sedang hidup di alam bebas.

Namun naluri kebuasan tetap mendorongku ingin lepas dan mengalahkan siapa saja. Terkadang pawang yang mengajakku berlari-lari juga kuserang, tapi dengan ajaib segera bisa dijinakkannya aku.

Dia berkata ada saatnya nanti aku mendapatkan lawan yang sepadan di arena yang besar, karena itu lebih baik aku harus menyimpan tenagaku untuk dilampiaskan ketika waktunya tiba.

Begitulah para pawang berujar untuk menjinakkanku. Anehnya aku bisa menurut pada pawang itu. Hasratku yang menggebu meredam ketika pawang berkomat-kamit menyanyikan tembang Jawa secara lirih.

Suatu kali Sinuhun Pakubuwana datang melihatku. Aku berdiri was-was. Naluri untuk menyerang bangkit ketika ada orang asing mendekat. Beberapa detik kemudian seorang abdi dalem membawa sesajen lalu meletakannya di depan jeruji besi.

Kupandangi beberapa saat benda itu. Tidak ada yang bisa kujadikan makanan dari sesajen itu. Asap dari benda yang kutahu bernama kemenyan mengepul ke dalam jeruji besi.

Entah mengapa keinginanku untuk menyerang sirna seketika. Lalu kulihat Sinuhun tersenyum kecil.

“Bagaimana persiapannya?”

“Semuanya lancar, Ingkang Sinuhun,” jawab si pawang dengan takzim.

“Bagus. Dia akan mendapatkan lawan yang sepadan.” Nampaknya Sinuhun sangat puas melihat kegagahanku.
***
HARI ini, waktu yang telah lama kunanti akhirnya tiba. Lawanku bernama Mahesadanu. Aku mendengar abdi dalem Gandek memanggilnya begitu ketika acara ini dimulai. Mahesadanu memiliki muka panjang yang tegas, badan yang tinggi besar, dan kaki-kaki yang kokoh.

Meskipun dia bukan sejenisku, namun melihat perawakannya yang seperti itu bisa dibilang kami adalah lawan yang sepadan.

Aku dan Mahesadanu saling berhadapan di tengah alun-alun yang sangat ramai. Para prajurit bersenjata tombak mengelilingi kami. Ada beberapa lapisan prajurit yang berjaga.

Di kejauhan kulihat Sinuhun Pakubuwana berbincang-bincang kecil dengan pejabat Belanda sambil sesekali tersenyum ke arahku. Barangkali lima lompatan panjangku tidak akan bisa menjangkaunya.

Mereka dikelilingi para abdi dalem dan prajurit penjaga. Di alun-alun ini, riuh penonton membuat suasana semakin memanas. Tubuhku yang sejak tadi sudah berkobar kini bergumul dengan suasana serba panas menghasilkan hasrat untuk membinasakan apa saja.

Aku harus jadi pemenang, mengalahkan Mahesadanu dan menumbangkan barisan prajurit yang berlapis-lapis itu.

Ketika abdi dalem Gandek memukulkan pedangnya tiga kali ke jeruji besi ―tanda pertandingan dimulai― aku sudah tidak sabar ingin menubruk Mahesadanu dengan tubuhku yang sudah memanas.

Kurasakan aura yang sama dari Mahesadanu. Kedua lubang hidungnya nampak membesar dan berwarna kemerahan, kontras dengan warna kulitnya. Dia menatapku tajam dan menggeram.

“Grrrrr…” aku membalas geramannya dengan menunjukkan taringku yang tajam.

Nampaknya kami berdua memiliki naluri yang sama, ingin menang dengan cara menyerang. Aku dan Mahesadanu mulai saling menyongsong. Dia memiliki senjata pamungkas di kepala, aku bermaksud mengincar lehernya. Dengan melukai leher, kepalanya akan kulumpuhkan.

Benar saja, dengan cepat dia mengarahkan bagian kepala ke tubuhku. Aku terlambat menghindar dan terpental. Kakiku yang kokoh segera menyeimbangkan tubuh yang sudah akrab dengan keliaran lawan.

Aku segera membalas dengan melukai tubuhnya. Kaki-kaki Mahesadanu amat kokoh, kecil kemungkinan untuk menumbangkan dia dengan hanya sekali tubruk. Aku harus melukai tubuhnya dengan cakarku yang tajam.

Untuk kesekian kali kami saling tubruk dan terjang, aku terpental beberapa kali tapi juga berhasil melukai beberapa bagian tubuh Mahesadanu. Semakin sengit pertandingan kami, semakin riuh suara penonton.

Aku mulai kewalahan ketika senjata pamungkas di kepala Mahesadanu berhasil melukai perutku. Memang tidak ada darah yang keluar, tapi tubrukan keras itu membuatku sulit bernapas.

Benar kata Sinuhun beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan lawan yang sepadan. Sebelum napasku habis aku harus berhasil melukai bagian vital dari tubuh Mahesadanu. Kuincar lagi bagian lehernya.

Ketika cakarku berhasil melukai lehernya segera kutancapkan taringku di bagian itu juga. Sebentar kemudian aku merasa puas. Semangatku mulai terkumpul. Kukoyak lehernya hingga dia meronta tak beraturan.

Darah segar mengucur perlahan lalu menderas. Darah-darah itu mengingatkan ketika aku menggigit ayam-ayam gemuk jatah makan sehari-hari. Rasa darah Mahesadanu lebih menyegarkan. Entah karena memang benar-benar segar atau karena aku mengucurkan darah-darah itu dengan perlawanan.

Bagiku, sesuatu yang diraih dengan perlawanan terasa lebih menggairahkan. Mahesadanu roboh dan menggelepar di tanah. Penonton di alun-alun semakin riuh bersorak-sorai.

Suara sorak-sorai ini adalah milikku. Kemenanganku. Dari kejauhan kulihat Sinuhun Pakubuwana tersenyum, menyeringai puas.

Setelah aku merobohkan Mahesadanu, para prajurit bersenjata tombak mulai maju ke arahku. Kuterka ujung tombak yang mereka bawa sama tajamnya dengan cakarku. Aku mengerti, kini giliran mereka yang akan kutumbangkan satu demi satu.

Setelah mengumpulkan tenaga beberapa saat, aku bersiap menyerang. Lawan yang sepadan membuatku semakin haus kemenangan. Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menambah panasnya suasana. Akan kudapatkan tepuk tangan yang lebih riuh jika aku menang.

Segera kurasakan ada satu tombak menyerang kakiku sebelum aku menerjang mereka. Kemudian diikuti serangan-serangan lain. Aku mencoba menghalaunya.

Beberapa berhasil kutepis. Beberapa prajurit di barisan paling depan juga sempat kulukai. Tapi hujaman tombak tidak segera berhenti. Jumlah mereka terlalu banyak.

Aku mulai kehabisan tenaga dan terluka. Seiring bertambahnya tombak yang menusuk tubuhku, aku mendengar sorak-sorai dan tepuk tangan penonton masih riuh. Mereka tetap bersorak senang meskipun aku mulai tumbang.

Aku ambruk ke tanah seperti Mahesadanu. Kuarahkan pandanganku ke Sinuhun. Dia tersenyum. Senyum kemenangan. ***

Siti NK atau Siti Nurkayatun, alumni Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta. Berkegiatan di Komunitas Sraddha dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Suka membaca, menulis, dan mengilustrasikan cerita.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...