Kerajinan Tuladha Malang Tembus Pasar Luar Negeri

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Inspirasi untuk membuat sebuah produk kerajinan bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja. Bisa dari hobi diri sendiri maupun dari kesukaan orang lain.

Hal inilah yang kemudian menginspirasi, Ratna Kiener, salah satu warga perumahan Villa Gunung Buring, kelurahan Cemorokandang, kecamatan Kedungkandang, kota Malang untuk berkreasi membuat aneka produk kerajinan dengan nama Tuladha.

Owner Tuladha, Ratna Kiener, menunjukkan aneka hasil kerajinannya – Foto: Agus Nurchaliq

“Sementara ini sudah ada tiga produk kerajinan yang kami produksi yakni berupa wayang, rajut dan wire,” sebutnya.

Ratna menjelaskan, produk-produk kerajinan Tuladha tersebut sudah mulai diproduksi dan dipasarkan sejak lima tahun yang lalu. Baik dipasarkan secara online melalui media sosial maupun offline dengan mengikuti acara pameran.

“Bahkan untuk produk wayang sudah diekspor sampai ke Jepang, Cina, Belanda dan Inggris,” akunya.
Diceritakan Ratna, inspirasi membuat kerajinan wayang berawal dari kesukaannya terhadap tokoh pewayangan. Ia kerap kali membeli wayang untuk dikoleksi.

“Sejak dulu saya memang sudah suka sekali dengan wayang dan sering membeli wayang. Hanya saja produk wayang yang dijual pada umumnya, terkadang tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Dari situ kemudian saya coba untuk membuat wayang sendiri,” kisahnya.

Dalam pembuatannya, Ratna menggunakan bahan dasar kulit kambing untuk membuat wayang berbagai ukuran dengan fungsinya masing-masing.

“Biasanya wayang dengan ukuran besar digunakan untuk dekorasi rumah. Sedangkan wayang ukuran kecil biasa digunakan untuk gantungan kunci maupun aksesoris seperti anting dan kalung,” terangnya.

Peminat aksesoris wayang sendiri saat ini sudah cukup banyak, karena masyarakat khususnya anak-anak muda sudah mulai suka dengan aksesoris yang etnik.

Lebih lanjut, kesenangan Ratna terhadap aksesoris, menginspirasinya untuk membuat aksesoris wire sesuai dengan yang ia inginkan.

“Untuk kerajinan wire, kami menggunakan kawat tembaga, yang kemudian dikombinasi dengan batu drusi, mutiara air tawar, dan batu-batu alam,” ujarnya.

Sedangkan untuk kerajinan rajut, Ratna terinspirasi dari anak perempuannya yang sangat suka dengan boneka.

“Kalau untuk kerajinan rajut, karena anak saya perempuan dan suka dengan boneka, jadi daripada beli boneka, lebih baik saya bikin sendiri dengan benang rajut,” jelasnya.

Dari ketiga kerajinan tersebut, pembuatan wayang memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi karena banyak tahapan proses yang harus dilalui.

“Untuk harga rata-rata produk Tuladha berkisar antara Rp 75 ribu sampai dengan Rp 350 ribu,” pungkasnya.

Lihat juga...