hut

Komitmen Pemprov Bali Lindungi Kain Tenun dari Kepunahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BULELENG – Berbagai hasil karya kerajinan kain tenun ikat khas yang unik dari beberapa daerah di Bali terancam punah.

Akibat membanjirnya hasil produk tenun bordir pabrikan di pasaran yang secara persaingan harga  lebih murah. Salah satunya dialami oleh produk tenun asli khas Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster akan melakukan berbagai upaya agar tenun ikat asli lokal tidak mengalami kepunahan. Salah satunya dengan cara mengajak masyarakat agar menggunakan produk tenun asli daerah.

Pihaknya pula turun langsung menjumpai perajin tenun ikat lokal agar mereka terus menjaga serta melestarikan tenun ikat warisan para leluhur tersebut.

“Mari perajin tenun, jangan pernah meninggalkan warisan leluhur kita ini. Karena kalau sudah punah tenun ikat kita, maka untuk rekonstruksi akan sangat berat dan membutuhkan waktu yang lama,” ujar Putri Koster, saat membuka Bimbingan Teknis Diversifikasi dan Peningkatan Kualitas Tenun Ikat di Desa Sembiran, Buleleng, Senin (24/6/2019).

Kekhawatiran akan kepunahan itu dinilai Putri Koster akibat regenerasi para penenun selama ini masih belum banyak. Di sisi lain, produk tenun bordiran berharga murah membanjiri pasaran yang secara perlahan akan mematikan penghidupan para perajin tenun asli.

“Apalagi masyarakat sekarang lebih memilih yang harganya murah. Kalau hasil tenun asli harganya sangat mahal seperti songket. Namun produk bordir pabrik diproduksi dengan mesin sehingga bisa diproduksi secara cepat dan massal. Jika dibiarkan terus, tentu seiring waktu akan membuat tenun warisan leluhur  punah,” jelasnya.

Merespon permasalahan tersebut, menurut istri Gubernur Wayan Koster ini, Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

Melalui Pergub ini, diharapkan masyarakat akan mencintai produk dalam negeri dan menggunakan produk hasil produksi daerahnya sendiri.

“Pemprov Bali sangat serius menyikapi permasalah ini, kita ingin melindungi dan melestarikan warisan leluhur. Dengan diberlakukannya Pergub ini, diharapkan para pelaku industri kerajinan Bali dapat menerima manfaatnya secara maksimal. Untuk itu, saya minta para peserta yang mengikuti Bimtek ini agar serius sehingga bisa memenuhi keinginan pasar,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Provinsi Bali, Putu Astawa, mengatakan, bahwa kegiatan bimtek ini diselenggarakan oleh Pemprov Bali melalui Disdagperin untuk meningkatkan kualitas para perajin tenun ikat di Bali.

Menurutnya, pemerintah perlu memberikan edukasi yang lebih mendalam kepada masyarakat khususnya para perajin terkait pakem yang ada dalam tenun ikat termasuk soal kualitas bahan baku, kualitas pewarnaan dan bagaimana cara promosi agar kain tenun asli bisa diserap oleh pasar.

Putu Astawa berharap dengan bimtek yang akan dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 24-28 Juni yang menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tenun ikat khas Desa Sembiran hingga dapat dikenal pasar.

“Hal ini juga kami lakukan sebagai upaya dalam mendorong ekonomi masyarakat dan meningkatkan UMK di Bali, serta memunculkan generasi baru yang tertarik untuk mendalami usaha tenun ikat,” tandasnya.

Lihat juga...