hut

Mahasiswa di Bekasi Ubah Gubug Menjadi Taman Literasi

Editor: Mahadeva

BEKASI – Sebuah gubug bekas, tempat penyimpanan kayu bakar milik nenek Nur, di Desa Lambang Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Beasi, Jawa Barat, Diubah Taufik Rahman (25) menjadi Gubug Literasi.

Taufiq Rahman (25) Mahasiswa STAI Nur El Ghazi, Tambun Selatan – Foto M Amin

Mahasiswa semester dua, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nur El Ghazi tersebut melakukannya setelah mendapat izin. Kini Gubug eks penyimpanan kayu bakar, yang berada di lahan perkebunan tersebut, diberi nama Gubug Literasi Setu (GLS). Taufiq berharap, yang dilakukannya bisa menginspirasi desa lain sehingga bisa muncul Gubug Literasi disetiap desa di Kabupaten Bekasi.

GLS pada awal dibangun hanya berbekal buku seadanya. Meski modal awal yang tidak maksimal, Taufik tetap mencoba untuk mengumpulkan anak-anak dengan tujuan meningkatkan minat baca pada pertengahan Februari 2019 lalu.

Bak gayung bersambut, apa yang dikerjakan akhirnya diketahui oleh rekan di kampus, dan akhirnya banyak mahasiwa ikut membantu secara swadaya, tenaga dan buku. Tak heran kini Gubug Literasi Setu sudah memiliki 70 koleksi buku berbagai jenis, mulai dari bacaan dewasa sampai anak usia sekolah dasar.

“Pendirian Gubug Literasi, bentuk kepedulian karena rendahnya minat baca masyarakat desa. Ini sebagai upaya untuk menciptakan agen perubahan,” ungkap Taufik Rahman, kepada Cendana News, Kamis (27/6/2019).

Meski terbilang baru, GLS diklaim sudah menginspirasi tiga desa di tiga Kecamatan lain di Kabupaten Bekasi. Taufiq dan rekan se-kampusnya bertekad akan menciptakan Gubug Baca lagi di sekitar wilayah Kecamatan Setu.  “Visi kami ingin menciptakan gubug baca-gubug baca di tiap-tiap desa, yang ada di wilayah Kabupaten Bekasi,” tandasnya.

Kendati demikian, Taufiq menyebut, hal terpenting bukanlah pembangunan Gubuq Literasi. Melainkan mampu menginspirasi dan memunculkan kesadaran masyarakat, mengenai pentingnya membaca buku sebagai jendela wawasan. Taufiq menmyebut, anak-anak yang datang ke gubug sebagian besar tidak mendapatkan pendidikan formal. Sementara, aktivitas yang dilakukan dari setiap gubug bermacam-macam, seperti belajar kebudayaan bekasi, hadrah, permainan maupun musik tradisional.

Gubug Literasi Setu, menjadi tempat berkumpulnya pemuda, agar semua bisa belajar bersama. Pemuda mengajari adik-adik yang ada di sekitar Desa Lambangjaya melalui kegiatan positif. Sehingga semua berperan menjadikan generasi penerus sebagai agen perubahan, dan menjadi pemimpin tangguh dimasa mendatang. “Saat ini yang dibutuhkan Gubug Literasi adalah alat tulis, buku dongeng. Untuk meja belajar, dibuat seadanya menggunakan kayu bekas. Harapannya ada yang peduli dan memberikan sumbangan buku,” pungkas Taufiq.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!