hut

Manfaatkan Limbah Spons, Tarmah Sukses Berdayakan Ratusan Warga

Editor: Mahadeva

BEKASI – Tarmah (53), sukses mengembangkan industri rumahan, pembuatan rumah kelomang berbahan dasar spons. Kegiatan tersebut sukses memberdayakan ratusan orang di wilayah Kampung Karangkitri, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat untuk bekerja.

Usaha tersebut diwarisi wanita asal Tegal tersebut dari orang tuannya. Saat ini, pasar rumah kelomang merambah hampir seluruh daerah di Indonesia. “Kurang lebih ada sekira 100 orang yang diberdayakan untuk membuat kerajinan rumah Kelomang (Umang-Umang) dengan menggunakan bahan dasar spons. Semua warga tersebut berada di Kampung Karang Kitri, terutama ibu rumah tangga,” ujar Tarmah, yang menjadi pengepul dan pemodal usaha rumah kelomang, Selasa (25/6/2019).

Usaha pembuatan rumah Kelomang, pada awalnya berbahan kertas biasa. Tapi karena kertas tidak bertahan lama, dibuat dengan bahan spons atau kompon limbah pabrik tiker. Hasilnya lebih menarik dan tahan lama.

Produksi Rumahan Kelomang milik Tarmah melibatkan ratusan warga. Kegiatan dikoordinir oleh satu orang yang dipercaya. Tarmah hanya menyiapkan bahan baku spons, perkilonya Rp15 ribu. Setelah itu, warga membuat kerajinan berbagai bentuk dan akan dibayar mulai dari harga Rp700 sampai Rp7.000 dalam bentuk satuan.

Tarmah (53), kembangkan kreasi kerajinan rumahan kelomang (Omang-Umang) dari bahan dasar spons dengan melibatkan ratusan pekerja di Kampung Karangkitri, Bekasi Timur Jawa Barat – Foto M Amin

“Sistemnya, saya menyerahkan bahan baku rumah kelomang kepada satu orang dengan harga Rp15 ribu per-kilogram (kg) spons. Setelah jadi, rumahan Kelomang akan diantar dan dibayar dengan harga mulai dari Rp.700 hingga Rp7000/unit,” jelas Tarmah.

Untuk harga beli dari perajin, yang telah dibinanya akan disesuaikan dengan ukuran rumahan Kelomang. Berbagai bentuk kreasi kerajinan rumahan kelomang, jenisnya berbentuk pesawat, mobil, tank perang, lampu petromak dan perahu. Bahan tersebut di buat dirumah sendiri dan jika sudah jadi bisa disetorkan.

Menurutnya, bahan baku spons satu kilogram bisa dibuat ratusan rumahan Kelomang. Semuanya tergantung kreasi yang dibuat. Jika ukuran besar, maka hasil yang didapatkan lebih sedikit. Apabila dibuat rumahan Kelomang ukuran standar, bisa menjadi ratusan unit di setiap kilo limbah spons.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa bahan  baku spons diambilnya dari sisa potongan pabrik tiker atau karpet lantai di daerah Tangerang. Sekali bekanja, bisa mencapai dua truk, karena komitmen yang disepakati, berapapun jumlah sampah tersebut harus diangkut. Untuk omzet, menurutnya tidak menentu. Terkadang bisa mencapai puluhan juta, tetapi terkadang juga sepi. “Bisa dikatakan sebulan hanya Rp2 jutaan,” tandasnya.

Puluhan model rumahan kelomang dibuat dengan berbagai ukuran. Saat ini, Tarmah berperan sebagai pengepul rumah kelomang di Kampung Kitri. Sebuah ruangan berukuran sekira 8×4 meter di depan rumahnya, disulap menjadi gudang sekaligus tempat penjualan grosir rumah kelomang.

Jangkauan distribusi rumah kelomang mencapai Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera hingga Makassar. “Ada Bandung, Tasikmalaya, Cirebon. Terus di luar ada dari Tegal, Brebes, dan Surabaya. Malah bisa nembus sampai ke Medan,” pungkasnya.

Lihat juga...