hut

Masyarakat Mengeluh Tarif PRJ Mahal, Harus Dievaluasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Muhammad Taufik, dari fraksi Gerindra mengkritik tarif Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang dikeluhkan masyarakat sangat mahal untuk masuk dan parkir di kawasan tersebut. Dia menilai PRJ perlu dievaluasi terkait penentuan tarif.

“Setuju, ya harus dievaluasi, jadi PRJ itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Bukan sesuatu yang menentukan segalanya,” ucap Taufik ditemui di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (24/6/2019).

Kemudian, kata Taufik, PRJ itu terlebih dahulu mengkonfirmasikan ke Pemerintah Daerah (Pemda) DKI untuk tarifnya. Menurutnya mengenai tarif masuk dikoordinasikan, karena PRJ ini juga bagian dari hiburan masyarakat.

“Dia kan (Manajemen PRJ) saya kira sudah koordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI fungsinya seperti apa. Terkait dengan tarif,” ujarnya.

Dia mendorong DPRD DKI jakarta segera memanggil manajemen PRJ. Komisi yang perlu panggil PRJ adalah komisi B dan C. Menurutnya mengenai tarif masuk dikoordinasikan, karena PRJ ini juga bagian dari hiburan masyarakat.

“Saya mendorong Komisi B dan C untuk memanggil manajemen PRJ, karena di situ juga terlibat pemerintah provinsi selaku pemilik saham,” pungkas Taufik.

“Karena itu dia enggak bisa semau-maunya menaikkan sesuatu yang memungut sesuatu dari masyarakat,” sambungnya.

Sebelumnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut, manajemen Pekan Raya Jakarta (PRJ) hanya memungut tarif yang mahal, tetapi gagal menyamankan pengunjungnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya mengawasi pelaksanaan PRJ ini.

“Masih ada waktu seminggu lagi bagi manajemen PRJ untuk memperbaiki layanan dan kinerjanya,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/6/2019).

Salah satu paket acara HUT ke-492 Jakarta adalah pelaksanaan PRJ atau Jakarta Fair, yang dilaksanakan per 22 Mei-30 Juni 2019.

“Pada hari Sabtu, saya mengunjungi PRJ. Memasuki area PRJ sekitar jam 16.15, dengan kemacetan yang parah. Dan baru bisa parkir sekitar jam 17.15 WIB,” kata dia.

Ada beberapa catatan terhadap pelaksanaan Jakarta Fair ini yang menjadi tidak adil bagi konsumen atau pengunjung. Tarif parkirnya menerapkan harga tetap, yakni Rp 30.000 per kendaraan sekali masuk. Tarif sebesar ini terlalu mahal. Ini sama saja menjadikan kenaikan tiket masuk secara terselubung.

Sedangkan tiket masuk tarifnya Rp 40.000 per orang untuk pengguna mobil jadi total harus merogoh kocek Rp 70.000. Kondisi area parkir sangat tidak nyaman, terbuka, dan berdebu. Selain itu, manajemen PRJ seharusnya bisa menakar berapa kapasitas maksimal area PRJ dan area parkir.

“Bukan malah sebaliknya, pengunjung terus diterima masuk ke area PRJ sehingga sangat sulit mencari area parkir, dan di dalam area PRJ sangat penuh sesak,” kata dia.

Menurutnya hal itu, sangat tidak nyaman, sementara konsumen sudah membayar parkir yang sangat mahal dan tiket masuk yang mahal juga.

Kemudian terkait fasos fasus di area PRJ juga kurang memadai, khususnya keberadaan dari jumlah toilet dan musala. Minim penandaan yang memberi pengunjung arah ke lokasi toilet dan musala.

“Jadi pengunjung harus mencari-cari petugas untuk bertanya, dimana keberadaan toilet dan musala. Selain itu terjadi antrian yang panjang di toilet perempuan. Di saat pengunjung membludak seperti itu, seharusnya disiapkan portable toilet,” katanya.

Di area PRJ banyak orang merokok dan SPG yang menjajakan serta mempromosikan produk rokok, dari beberapa merek. Rokok ditawarkan dengan promosi potongan harga Rp 20.000 mendapatkan dua bungkus rokok, plus wadah asesorisnya.

Dengan demikian, PRJ yang mengklaim berskala internasional, kalah dengan area pasar tradisional di Bangkok, Pasar Tjacucak, yang terbebas asap rokok.

Lihat juga...