hut

Monitoring Lahan Gambut Secara Komprehensif Gunakan ‘PRIMS’

JAKARTA — Badan Restorasi Gambut (BRG) mulai melakukan monitor lahan gambut lebih komprehensif dengan menggunakan Pranata Informasi Restorasi Ekosistem Gambut (Peatland Restoration Information and Monitoring System/PRIMS).

“Mulai Mei sudah jalankan sistem monitoring komprehensif dibanding Sipalaga (Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut). Sistem baru ini memasukkan lebih banyak data,” kata Kepala BRG Nazir Foead dalam diskusi media dan LSM terkait Sistem Monitoring Restorasi Ekosistem Gambut di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead saat menjawab pertanyaan wartawan usai diskusi media dan LSM terkait Sistem Pemantauan Air Eksistem Gambut di Jakarta, Rabu (19/6/2019). -Foto: Antara

Sistem memonitor tinggi muka air (TMA) lahan gambut dengan memanfaatkan berbagai jenis sensor di Sipalaga diperlengkap dengan memanfaatkan data citra satelit yang mampu memantau kelembapan, degradasi hingga karbon lahan gambut.

“Sipalaganya sendiri masih perlu dikembangkan lagi memang. Dengan PRIMS akan lebih luas melihat pembasahan atau kelembapan lahan gambut. Mestinya cara ini akan lebih mudah mengetahui sejauh mana manfaat pembasahan gambut yang sudah dilakukan selain dapat memantau degradasi lahan gambut, sehingga mudah bagi TRGD mengeceknya,” tuturnya.

Menurut Nazir, jika identifikasi degradasi lahan gambut lebih cepat diketahui maka akan lebih murah biaya untuk mengoreksinya. “Sesuai perintah Presiden untuk melakukan deteksi dini”.

PRIMS dapat diakses oleh Pemerintah Pusat dan Daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya meskipun akan ada tingkatan perbedaan data yang diperoleh, ujar dia.

Sistem monitoring restorasi lahan gambut secara daring yang dikembangkan BRG ini sama dengan yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yakni Sistem Informasi Muka Air Tanah Gambut 0,4 meter (SiMATAG-0,4m), namun tentu berbeda data mengingat sistem BRG ditempatkan di lahan gambut masyarakat sedangkan milik KLHK ditempatkan di wilayah konsesi perusahaan.

“Tapi nantinya mustinya jadi satu, apalagi sensor realtime sudah dikalibrasi akan mengurangi biaya untuk pemantauan lahan gambut. Tapi masih butuh waktu. Sipalaga saja masih tahap penyempurnaan dan sudah dibuka ke publik,” ujar Nazir. (Ant)

Lihat juga...