Musim ‘Gadu’ di Lamsel Sebabkan Produksi Jagung tak Maksimal

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masa tanam gadu atau kemarau di wilayah Lampung Selatan (Lamsel), berimbas penurunan produksi jagung. Hal ini karena pada saat tanaman mulai berbunga, musim kemarau melanda sehingga pertumbuhan tanaman tidak maksimal.

Andi, salah satu petani jagung di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, menyebut, dampak musim kemarau saat musim berbunga mengakibatkan pertumbuhan tidak maksimal. Pada musim tanam sebelumnya di lahan seluas empat hektare, ia menanam 11 kampil atau sekitar 55 kilogram.

Sesuai dengan kondisi cuaca, saat curah hujan cukup pada masa tanam ia bisa memperoleh hasil sekitar 30 ton. Sebaliknya, pada musim gadu tahun lalu, ia masih bisa memanen 25 ton.

Produksi jagung yang cukup baik tersebut, diakui Andi berkat pemeliharaan yang cukup baik. Menggunakan pupuk NPK, Urea, Phonska, hasil produksi jagung bisa ditingkatkan.

Namun, keberadaan gulma rumput, dan tikus mengakibatkan produksi tidak sempurna. Selain penurunan produksi pada tongkol, bobot jagung juga berkurang.

Andi, salah satu petani jagung di kecamatan Penengahan, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

“Jagung yang ditanam oleh petani merupakan jenis jagung yang memiliki bobot cukup baik, sehingga tonase yang diperoleh akan menguntungkan,” ungkap Andi, Senin (10/6/2018).

Selama ini, petani di wilayah Lamsel memilih menjual jagung dalam kondisi sudah dalam kondisi pitilan atau pipilan. Sebab penjualan jagung dengan sistem utuh dengan karung, memiliki harga yang cukup rendah.

Harga jagung dengan sistem tongkol dijual dengan harga Rp70.000 per karung. Sebaliknya, harga dengan sistem pitilan dijual Rp4.800 atau Rp480 ribu per kuintal.

Meski demikian, ia menyebut pada tahun ini saat masa panen gadu akan lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Pada musim tanam gadu tahun lalu, hasil sebanyak 25 ton bisa diperolehnya.

Saat masa panen musim gadu, bisa mendapatkan hasil panen 20 ton sudah cukup untung. Pasalnya, pada sejumlah petak kebun jagung memiliki buah yang tidak maksimal.

“Akibat panas, istilah kami tanaman jagung menjadi punter atau kerdil, buah yang dihasilkan berkurang,” papar Andi.

Petani jagung lain bernama Usman, menyebut saat kemarau tiba, tanaman jagung miliknya memasuki masa pemupukan, sehingga menghambat proses penyerapan pupuk. Ia pun terpaksa mempergunakan mesin pompa air.

Pompa air digunakan, karena lokasi kebun berada di lahan yang lebih tinggi dari sungai.

“Meski mengeluarkan biaya lebih banyak dari kondisi normal, namun terpaksa dilakukan untuk penyiraman, ” terang Usman.

Penyiraman tanaman jagung saat musim tanam gadu, berfungsi untuk mempercepat penyerapan pupuk. Sebagian lahan yang tidak bisa tercapai oleh proses penyiraman, akan memiliki pertumbuhan kurang maksimal.

Namun demikian, Usman masih tetap beruntung karena sebagian petani lain tidak bisa menanam sama sekali akibat kemarau tanpa ada pasokan air irigasi.

Lihat juga...