Musim Panen Untungkan Berbagai Pihak di Lampung Selatan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Masa panen komoditas cengkih dan kakao di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga. Mulai dari pemetik penyortir serta perantara jual beli atau cengkau.

“Perekonomian menggeliat saat panen, karena menguntungkan berbagai pihak dan membuka peluang penghasilan,” sebut Wardal, salah satu pemilik ratusan batang tanaman cengkih saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (25/6/2019).

Pemetik cengkih atau juru panjat dilakukan oleh orang yang berpengalaman. Sebab sebagian besar tanaman sudah berusia puluhan tahun dengan ketinggian lebih dari 10 meter. Proses pemetikan butuh tangga bambu untuk mencapai pucuk tertinggi.

“Hanya orang memiliki pengalaman sebagai juru petik diakuinya bisa menjalankan tugas tersebut. Sebab keberanian, keahlian memetik cengkih pada ketinggian tidak dimiliki semua orang,” sebutnya.

Para juru petik dalam sehari bisa menyelesaikan pemetikan satu pohon hingga dua pohon menyesuaikan tingkat kelebatan buah.

“Selama proses pemetikan oleh juru petik, terkadang ada buah cengkih yang jatuh ke tanah maka diperlukan tenaga kerja cikru yang dominan dilakukan oleh perempuan sebagai pengumpul cengkih,” ungkap Wardal.

Bagi juru petik upah yang diberikan menyesuaikan tingkat kesulitan dan resiko mulai Rp45.000 hingga Rp70.000 untuk per kuintal.

Wardal, pemilik kebun cengkih di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Budi, salah satu juru petik mengungkapkan panen cengkih jadi mata pencaharian baginya. Keahlian memanjat menjadi bekal baginya untuk bekerja di kebun cengkih petani. Minimnya juru petik cengkih membuat tenaganya kerap diandalkan.

“Semakin banyak pohon cengkih saya panjat maka hasil yang diperoleh bisa lebih banyak,” beber Budi.

Dibantu sang istri, Saminah, pekerjaan cikru cengkih yang jatuh juga mendapatkan upah. Upah sekitar Rp1.000 untuk per kobok atau baskom kecil akan diperoleh. Selain itu upah akan bertambah dengan adanya tahapan lanjutan untuk penyortiran.

“Di rumah pemilik cengkih proses penyortiran akan diupah Rp500 per kobok,” tambahnya.

Selama musim panen cengkih ia menyebut warga yang tidak miliki kebun pun bisa mendapatkan penghasilan. Hal yang sama terjadi saat musim panen kakao banyak wanita jadi juru petik dan kupas.

“Penghasilan tambahan bisa diperoleh untuk uang jajan anak sekolah dan keperluan sehari hari. Sebab selain upah, sebagian pekerja akan memperoleh bonus saat pemilik kebun mendapatkan hasil melimpah,” tambahnya.

Pekerjaan musiman yang muncul saat panen cengkih dan kakao juga dijalani Rusli sebagai perantara jual beli. Istilah cengkau yang disematkan kepadanya dilakukan saat panen kakao dan cengkih. Masa panen cengkih ia menyebut membeli dari petani Rp55.000 per kilogram dari harga rata rata Rp75.000. Sebagian petani pemilik kebun cengkih dalam jumlah sedikit, butuh uang kerap menjual cengkih pada cengkau sepertinya.

“Modal kerap meminjam dari bos dan saya dapat selisih uang penjualan sebagai keuntungan sesuai harga yang ditetapkan bos,” papar Rusli.

Ia menyebut berkeliling dari desa ke desa membeli kakao dan cengkih selanjutnya dibawa ke bos pengepul. Pekerjaaan musiman tersebut bisa memberinya keuntungan hingga jutaan rupiah. Sebab saat melimpah hasil panen ia bisa mengumpulkan cengkih atau kakao dalam jumlah banyak.

“Pekerjaan dengan keahlian menaksir kualitas dan harga cengkih, kakao menjadi pekerjaan yang menghasilkan. Sebab dari hasil kerja sebagai cengkau ia bisa membiayai anak sekolah,” tutupnya.

Lihat juga...