Naik 100 Persen, Indikator Transportasi Laut Masih Primadona

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Produksi angkutan penumpang pengguna jasa pelayaran menggunakan kapal melalui pelabuhan Bakauheni meningkat pada tahun 2019.

Sesuai data angkutan lebaran 2018 dan 2019 kenaikan rata-rata lebih dari 100 persen. Kenaikan tersebut dibenarkan Sugeng Purwono, Manajer Operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) cabang Bakauheni Lampung.

Sugeng Purwono yang sekaligus kepala posko angkutan lebaran (Angleb) menyebut data perbandingan dilakukan dalam periode 16 hari layanan angleb.

Data tersebut diakuinya mencatat tentang perjalanan (trip kapal), penumpang, kendaraan roda dua, roda empat, bus dan truk. Pada periode angleb 2018 data angkutan dihitung mulai 8 Juni hingga 23 Juni 2018. Sementara periode angleb 2019 dihitung mulai 29 Mei hingga 13 Juni 2019.

Sugeng Purwono (kiri), Manajer Operasional PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni Lampung – Foto: Henk Widi

Pada periode yang sama di tahun yang berbeda, Sugeng Purwono menyebut terjadi kenaikan signifikan pada semua jenis layanan. Pada layanan penumpang, ASDP mencatat produksi mencapai 1.223.384 penumpang di 2019 atau naik sebanyak 109,5% dari tahun 2018 hanya sebanyak 1.116.892 penumpang.

Peningkatan tersebut dilayani oleh sebanyak 1.739 trip kapal atau menurun 83 % dibanding tahun lalu 2.095 trip.

“Kenaikan dilihat dari perbandingan year to year pada periode yang sama selama angkutan mudik dan balik khusus untuk pengguna jasa menyeberang dari pelabuhan Bakauheni ke Merak,” ungkap Sugeng Purwono membeberkan data posko angleb di Bakauheni, Sabtu  (15/6/2019) petang.

Sugeng Purwono melanjutkan, kenaikan terjadi juga pada produksi layanan penyeberangan kendaraan roda dua. Jika tahun lalu kendaraan roda dua menyeberang sebanyak 79.528 unit, tahun ini tercatat sebanyak 84.317 unit roda dua menyeberang atau naik sebesar 106,0%.

Hal yang sama terjadi pada armada bus yang banyak digunakan untuk kegiatan mudik bersama. Tahun lalu bus diseberangkan dari Bakauheni 6.692 unit tahun ini menjadi 7.552 unit atau naik 112,9%.

Sejumlah faktor kenaikan pengguna jasa memakai moda transportasi laut disebutnya imbas dari mahalnya transportasi udara. Selain itu konektivitas trans Jawa ke trans Sumatera melalui tol ikut mendongkrak peningkatan penggunaan jasa transportasi laut.

Waktu pelayanan yang dipercepat sekaligus pembenahan sistem tiket nontunai (cashless) ikut mendorong proses pelayanan yang lebih cepat di pelabuhan Bakauheni.

“Meski dalam evaluasi tetap ada yang harus dibenahi namun secara keseluruhan pengguna jasa meningkat menjadi indikator moda transportasi laut masih primadona,” beber Sugeng.

Sejumlah calon penumpang kapal membeli tiket di pelabuhan Bakauheni Lampung – Foto: Henk Widi

Indikator kenaikan pengguna jasa dengan menggunakan truk atau kendaraan besar juga masih terlihat. Sesuai data jumlah truk menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni tahun lalu berjumlah 140.766 unit.

Tahun ini jumlah truk menyeberang berjumlah sekitar 160.078 unit atau naik sebesar 113,7%. Secara keseluruhan dari semua jenis kendaraan roda dua dan roda empat/lebih, tahun lalu tercatat 220.294 unit menyeberang ke Jawa dan tahun ini 244.395 atau naik 110%.

Pelayanan yang lebih baik disebut Sugeng Purwono dilayani oleh sebanyak 34 kapal dengan rata-rata trip per hari 110. Selain itu pemanfaatan sebanyak 29 kapal besar, 25 kapal sedang dan 1 kapal ukuran kecil ikut memperlancar pelayanan kapal.

Sejumlah antrian yang terjadi di loket penumpang pejalan kaki, kendaraan roda dua dan roda empat bisa diurai setelah jadwal kapal sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Penggunaan moda transportasi laut terkoneksi dengan darat yang lebih lancar tahun ini diakui Teguh. Warga asal Jambi yang menuju Ponorogo Jawa Timur tersebut mengaku melintas melalui jalan lintas sumatera dan jalan tol trans sumatera.

Meski masih baru bisa masuk ke tol Sumatera melalui pintu gerbang Terbanggi Besar, ia bisa tiba di pelabuhan Bakauheni sekitar 2 jam lebih cepat dibanding sebelumnya 4 jam.

“Sistem pembelian tiket elektronik juga membuat pengendara bisa lebih cepat dilayani, hanya saja harus lebih dipercepat agar tidak ada antrian,” papar Teguh.

Teguh juga menyebut keberadaan dermaga eksekutif untuk melayani pengguna jasa ikut mempercepat pelayanan.

Saat dermaga reguler membutuhkan waktu tempuh maksimal 2,5 jam, dengan kapal eksekutif maka bisa ditempuh hanya 1 jam. Pengguna jasa juga bisa memanfaatkan waktu menunggu dengan menikmati suasana dermaga eksekutif sebagai layanan transportasi dan bisnis terintegrasi.

Lihat juga...