Nasib Petani Tembakau di Bantul Tergantung Pabrik

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sejumlah petani tembakau di Kabupaten Bantul, hingga saat ini mengaku masih sangat tergantung kepada pabrik pengolah tembakau. Hal itu berdampak pada makin menurunnya kesejahteraan petani tembakau di wilayah ini.

Selain bergantung pada suplai bibit tembakau dari pihak pabrik, para petani juga mengaku tak bisa mengontrol harga jual tembakau saat masa panen tiba. Hal itu tak lepas karena monopoli harga tembakau masih dikuasai pihak pabrik, sebagai satu-satunya penyerap hasil panen petani.

Saeno, petani tembakau di Dusun Sanan, Bawuran, Pleret, Bantul, mengaku sudah sejak lama menanam tembakau setiap musim kemarau tiba. Ia mengaku, mulai dari masa tanam hingga masa panen, mayoritas petani masih bergantung pada pihak pabrik pengolah tembakau.

“Bibit kita juga ambil dari pabrik. Karena kualitasnya sudah sesuai dengan standar pabrik tersebut. Sebenarnya kita bisa membibitkan sendiri tembakau. Tapi jika hasilnya kurang bagus atau di bawah standar, percuma saja karena pabrik tidak mau membeli,” katanya.

Mulai membibitkan tembakau, sejak sebelum masa panen padi tiba, sekitar bulan April-Mei, Saeno mengaku membutuhkan waktu sekitar 40 hari hingga bibit itu bisa ditanam. Selain ditanam di lahannya sendiri, sebagian bibit tembakau itu juga ia jual pada petani tembakau lain seharga Rp50 per bibit.

“Saat masa panen, kita juga hanya bisa manut (menurut) pabrik. Jika kualitas tembakau dinilai kurang, kita tidak bisa berbuat banyak, kecuali menerima harga yang ditentukan pabrik. Kalau tidak begitu, siapa yang mau membeli hasil panen tembakau petani?” ujarnya.

Setelah mengolah lahan dengan proses pemupukan dan pengowakan (pembuatan lubang untuk penanaman bibit), Saeno akan mulai memanen tembakau saat sudah berumur 70 hari. Selama kurun waktu tersebut, ia harus melakukan perawatan berupa penyiraman setiap 1-2 minggu sekali. Yakni, dengan menggunakan sumur bor dan mesin diesel.

“Khusus tanaman tembakau tidak disemprot dengan pestisida. Untuk menghilangkan hama seperti ulat, biasa dilakukan dengan cara dipilah langsung secara manual dengan menggunakan tangan. Ini agar daun tembakau yang dihasilkan bagus,” ungkapnya.

Begitu panen, para petani biasanya akan mengolah daun tembakau mereka, mulai dari menjemur hingga merajang. Penjualan tembakau ke pabrik biasa dilakukan dalam bentuk kering.

Jika sedang bagus, harga jual tembakau dari kawasan Bantul bisa mencapai Rp30-40.000 per kilogram. Sementara jika sedang jatuh, harga tembakau hanya berkisar Rp20-30.000.

“Yang penting jangan sampai turun hujan, apalagi banjir. Karena harga tembaku bisa langsung jatuh. Petani bisa merugi karena gagal panen. Padahal, sudah mengeluarkan modal mulai dari membeli bibit, mengolah tanah, memupuk hingga membayar tenaga tanam hingga jutaan rupiah,” pungkasnya.

Lihat juga...