NTB Siap Alokasikan Wilayah untuk Pengembangan Kawasan Konservasi Biosfer

Editor: Mahadeva

MATARAM – Sebagai bentuk dukungan kepada penetapan kawasan Saleh, Moyo dan Tambora (Samota) oleh UNESCO sebagai salah satu cagar biosfer dunia, Pemprov Nusa Tenggara Barat siap mengalokasikan wilayah untuk pengembangan kawasan konservasi tersebut.

“Pemprov dan masyarakat NTB telah bersedia untuk mengambil langkah nyata, demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer tersebut, dengan siap mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau),” kata Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, dalam keterangan tertulis saat mengikuti The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis, Kamis (20/6/2019).

Wilayah yang dipersiapkan menjadi areal pengembangan kawasan  konservasi adalah, Tamanonal Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali Pulau Sumbawa.

Sementara untuk Pulau Lombok Rinjani, yang lebih dulu ditetapkan sebagai global Geopark, juga telah salah satu kawasan konservasi. Kemudian Taman Wisata Alam Gunung Tunak dan sejumlah area konservasi lain, di bawah program pengelolaan terpadu.

“Pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi. Sekaligus, didukung oleh kajian ilmiah,” jelasnya.

Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia di 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan.

Kepala Biro Humas Pemprov NTB, Najamudin, menyampaikan, cagar biosfer Rinjani di Lombok dan Samota di Sumbawa akan menjadi tuan rumah pertemuan 13rd South East Biosphere Reserve Network (SeaBRnet) di 2020 mendatang.

Lihat juga...