Pakar Kritisi Data Jumlah Pengunjung dan Wisatawan di Sumbar

Editor: Koko Triarko

PADANG – Pakar pariwisata di Kota Padang, mengkritisi penghitungan pengunjung dan wisatawan di sejumlah destinasi wisata, yang dihimpun oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatra Barat, yang menyebut jumlah mencapai 2 juta lebih.

Pakar Pariwisata dari Universitas Andalas Padang, Sari Lenggogeni, menyatakan agak kurang menyetujui dengan hasil penghitungan kunjungan ke destinasi wisata tersebut. Sehingga hasil yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatra Barat itu, perlu ada penjelasan terkait standar dan metode penghitungan yang dilakukan.

Menurutnya, dengan telah dirilisnya data tersebut oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatra Barat, bukan serta merta bahwa begitulah banyaknya pengunjung dan wisatawan ke destinasi di sejumlah daerah. Karena bisa dikatakan data tersebut tidak bisa dijadikan patokan pengunjung dan wisatawan.

Pakar Pariwisata Universitas Andalas Padang, Sari Lenggogeni/ Foto: Ist

“Dinas Pariwisata seharusnya hati-hati mengeluarkan data-data itu. Karena ada yang menyebutkan pengunjung dan wisatawan ke Kabupaten Pesisir Selatan lebih tinggi dari kabupaten dan kota lainnya. Di Kota Bukittinggi, biasanya selalu ada pada posisi puncak, kalau tidak di posisi satu, bisa ke posisi dua, dan Kota Bukittinggi itu selalu bersaing dengan Kota Padang,” katanya, Jumat (14/6/2019).

Untuk itu, ia menegaskan harus ada standar penghitungan dari jumlah pengunjung tersebut. Jika pun ada penghitungan berdasarkan retribusi tiket masuk, dan begitu juga adanya daerah lainnya ada yang melakukan penghitungan atas dasar hunian hotel. Dengan demikian, akan berbeda penghitungan jumlah pengunjung dan wisatawan tersebut.

Ia berpendapat, mengingat banyaknya destinasi wisata di Sumatra Barat, ada kemungkinan sekelompok orang mendatangi beberapa destinasi wisata di kabupaten dan kota di daerah tersebut. Sementara ketika sekelompok orang itu, misalnya datang ke Bukittingi, lalu berlanjut mengunjungi wisata Lembah Anai, setelah itu sekelompok orang itu lanjut ke Pantai Gandoriah Pariaman, dan hingga ke Kota Padang dan Kabupaten Peisisr Selatan.

Sekelompok orang yang sama itu, dihitung oleh kabupaten dan kota lalu disampaikan ke Dinas Pariwisata Provinsi Sumatra Barat.

Seandainya ada 10 orang yang lagi berkeliling ke destinasi wisata di Sumatra Barat, maka masing-masing daerah akan menghitung ada 10 orang yang berkunjung ke destinasi wisata di daerahnya. Sampailah ke tingkat provinsi, disebutkan dari 19 kabupaten dan kota di Sumatra Barat ada 190 pengunjung yang mendatangi destinasi wisata, di mana-mana masing-masing daerah ada pengunjung dan wisatawan 10 orang. Padahal, orangnya tetap sama, hanya destinasi wisata saja yang berbeda. Inilah yang harus diperjelas oleh Dinas Pariwisata.

“Kita harus bisa membedakan itu, mana yang pengunjung dan mana yang wisatawan. Jadi jangan disebut orang Sumatra Barat ini wisatawan, jika dibilang juga wisatawan, blunder nanti. Bisa saja dibilang wisatawan, bila pengunjung itu menghabiskan waktu 24 jam di satu tempat destinasi,” jelasnya.

Sari melihat, Kota Padang dan Bukittinggi sudah lebih matang soal pariwisata dan telah memberikan pengaruh kepada perekonomian kepada masyarakat, ketimbang daerah lainnya. Ini bisa dilihat dari faktor pendukung seperti hotel dan sovenir yang telah ikut berkembang di daerah tersebut.

“Padang dan Bukittinggi itu sudah matang soal pariwisatannya. Sementara destinasi di Kabupaten Pesisir Selatan baru akan berkembang dan baru menjadi persinggahan. Pertanyaan lain, apakah pengunjung itu belanja, sehingga berdampak kepada perekonomian masyarakat, bisa pariwisata harus seperti itu?” tegasnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatra Barat, Oni Yulfian, mengakui pihaknya tidak punya metode dan standar untuk mengoreksi data-data kunjungan objek wisata yang dikirimkan kabupaten dan kota di Sumatra Barat.

“Memang data itu sangat mentah, untuk itu dalam waktu dekat kita akan menggelar rapat koordinasi dengan Dinas Pariwsaita Kabupaten dan Kota. Tujuannya biar semuanya jelas, bagaimana cara penghitungan. Kalau di tingkat provinsi kita hanya menerima data, sementara yang mendata di lapangan dilakukan langsung oleh Dinas Pariwisata Kabupaten dan Kota,” ucapnya.

Untuk itu, terkait kritikan dari pengamat pariwisata tersebut, Oni berharap lembaga pariwisata yang ada dapat berperan membantu menyediakan metode dan membantu mengoreksi data-data tersebut.

Data-data yang dimaksud, daerah yang paling banyak kunjungannya yakni Kabupaten Pesisir Selatan mendapat kunjungan paling tinggi sebesar 795.747 wisatawan, Kota Padang 333.000 wisatawan, di susul Kota Pariaman 226.993 wisatawan dan Bukittinggi 192.242 wisatawan, dan juga ada kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 264 orang.

Lihat juga...