hut

Pemberian Pupuk yang Tepat Maksimalkan Produksi Cengkih di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Masa panen komoditas pertanian cengkih tahun ini mulai berlangsung sejak bulan Mei hingga Juni. Hasil yang maksimal diakui oleh sejumlah petani berkat proses pemupukan yang tepat.

Susilo, salah satu petani di Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut proses pemupukan wajib dilakukan sejak awal masa tanam.  Lubang yang dibuat melingkar sedalam setengah meter berjarak dua meter atau berada di jangkauan akar sebelumnya dijadikan sebagai tempat pembubunan sampah. Sampah organik dari daun ditambah kotoran ternak akan menjadi pupuk kompos.

Saat tanaman cengkih memasuki proses pembungaan, pemberian pupuk kimia akan kembali dilakukan. Asupan pupuk yang tepat pada waktu berbunga menjadi tambahan nutrisi untuk bakal buah. Selain itu, proses penyiraman yang dilakukan saat kemarau mencegah terjadinya kerontokan daun.

“Keberadaan daun yang lebat menjadi kunci terciptanya bahan makanan karena saat kemarau potensi daun rontok tinggi, pemupukan dan penyiraman harus rutin dilakukan,” terang Susilo saat ditemui Cendana News, Senin (24/6/2019)

Bagi sebanyak 500 tanaman cengkih, membutuhkan sekitar 1 ton pupuk campuran. Pupuk yang digunakan merupakan jenis pupuk nonsubsidi karena petani belum mengajukan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) untuk alokasi pupuk. Meski harga lebih mahal namun hasil panen bisa dipergunakan untuk menutupi biaya.

Susilo, salah satu petani cengkih di Kecamatan Penengahan melakukan proses pemetikan cengkih usia panen. Foto: Henk Widi

Susilo menyebut sebagai perbandingan, tanaman yang dipupuk akan menghasilkan buah 30 persen lebih banyak. Pada kondisi normal, tanaman cengkih tanpa pemupukan hanya menghasilkan sekitar 20 kilogram dalam sekali panen dan 40 kilogram dengan pemupukan sempurna. Tanaman  bahkan akan menghasilkan buah maksimal saat usia tanaman sudah lebih dari lima tahun.

Pemberian pupuk untuk peningkatan hasil pertanian cengkih diakui oleh petani lain bernama Wardal. Petani asal Desa Hargo Pancuran, kecamatan Rajabasa tersebut mengaku NPK, Urea dan Phonska kerap digunakan layaknya untuk jagung. Sistem penanaman di lahan yang ditumpangsarikan dengan jagung membuat ia lebih mudah menerapkan sistem pemupukan.

“Pemberian pupuk kimia pada tanaman cengkih hanya sebagai pelengkap karena selama ini lahan cukup subur dengan pupuk kompos,” beber Wardal.

Pada wilayah tersebut, sebagian petani bahkan merupakan mitra binaan dari produsen rokok. Kemitraan yang dijalin termasuk upaya pola penanganan penanaman hingga paska panen.

Hasil panen yang menjanjikan pada tanaman cengkih musim panen ini diakui Wardal bertepatan dengan waktu tepat. Pasalnya harga cengkih masih berpotensi naik. Sempat dijual seharga Rp65.000 dan kini harga naik menjadi Rp75.000. Meski demikian harga perkilogram cengkih kering tersebut tidak lebih baik dari musim sebelumnya yang mencapai Rp100.000 per kilogram.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!