hut

Pengurus Jasa Ekspedisi Kembali Bergairah Usai Pembatasan Penyeberangan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Ratusan pengurus jasa ekspedisi asal pulau Sumatera tujuan Jawa mulai kembali bergairah. Pasalnya sejak tiga hari sebelum lebaran (H-3) pada (3/6) hingga hari ketiga usai lebaran (H+3) pada (8/6) kendaraan truk ekspedisi dibatasi untuk menyeberang ke Jawa memakai kapal.

Pembatasan atas instruksi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan untuk prioritas angkutan lebaran.

Ali Akbar, pengurus jasa ekspedisi anggota Federasi Transportasi, Industri Umum dan Angkutan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FTI-SBSI) Lampung Selatan (Lamsel) menyebut, pihaknya mematuhi instruksi tersebut.

Selama enam hari terjadi penurunan jumlah truk menyeberang. Truk dibatasi menyeberang diantaranya truk nonkebutuhan pokok atau sembako. Sebagai solusi, sejumlah truk sementara berhenti pada sejumlah kantong parkir sepanjang jalan lintas Sumatera.

Ali Akbar, pengurus jasa ekspedisi anggota Federasi Transportasi, Industri Umum dan Angkutan, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia Bakauheni Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Sebagai pengurus jasa ekspedisi, Ali Akbar memastikan kerugian dialami akibat tidak ada kendaraan menyeberang. Penurunan signifikan diakuinya terlihat dari semula 50 truk per hari melintas, selama pembatasan tidak ada truk melintas. Dari sisi pendapatan, saat truk tidak melintas ia tidak memperoleh fee dari jasa pengurusan penyeberangan.

“Kendaraan yang tidak menyeberang sebagian dikantongi pada area parkir dermaga enam pelabuhan Bakauheni, pengaturan fleksibel dilakukan saat muatan kapal sedikit. Tapi tetap saja menurunkan jumlah kendaraan menyeberang,” ungkap Ali Akbar saat ditemui Cendana News,  Sabtu (15/6/2019).

Sebelumnya prioritas kendaraan ekspedisi yang boleh melintas hanya truk pengangkut sembako, BBM dan barang pos. Penurunan secara global disebut Ali Akbar bisa terlihat dalam sehari truk menyeberang bisa mencapai lebih dari 1000 unit.

Namun saat pembatasan hanya ada sekitar ratusan bahkan sempat mencapai hanya puluhan kendaraan menyeberang. Jumlah tersebut diakuinya berasal dari semua pengurus yang tergabung dalam organisasi FTI SBSI Lamsel.

Usai angkutan lebaran, ia menyebut truk sudah tidak dibatasi bahkan kembali normal. Gairah para pelaku usaha jasa penyeberangan tersebut mulai terlihat dari volume truk yang menyeberang. Sejumlah perusahaan ekspedisi bahkan kembali melakukan pengiriman.

Sistem transaksi memakai uang elektronik menurut Ali Akbar semakin memudahkan pengusaha. Sebab pengemudi tidak memegang uang tunai dan pembayaran dilakukan oleh pengurus saat truk akan menyeberang.

Penurunan jumlah truk ekspedisi menyeberang ke Jawa dari Sumatera juga diakui Hendra, salah satu pengurus jasa ekspedisi dan penyeberangan. Sebagai solusi untuk mengatasi penumpukan di area pelabuhan Bakauheni milik PT ASDP Indonesia Ferry, sejumlah truk ekspedisi memilih pelabuhan lain.

Pelabuhan yang menjadi pilihan diantaranya PT Bandar Bakau Jaya yang memiliki kapal jenis landing craft tank (LCT).

“Pelabuhan LCT hanya khusus untuk truk barang sehingga kami tidak harus menunggu, selain itu parkiran juga lebih luas,” papar Hendra.

Hendra menyebut arus penyeberangan kembali normal seiring lancarnya lalu lintas di jalan tol, jalan lintas Sumatera. Sebagai pengurus, volume kendaraan ekspedisi yang melintas tersebut menjadi sumber untuk penghasilan.

Sebagian pengurus yang merupakan perpanjangan tangan perusahaan mendapat tugas memperlancar kendaraan ekspedisi yang akan menyeberang. Sebagian pengurus juga mendapatkan fee dari proses transaksi saat truk menyeberang.

Penurunan volume kendaraan menyeberang menggunakan kapal diakui Warsa, ketua Dewan Pimpinan
Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC Gapasdap) Bakauheni.

Data truk menyeberang dari Merak tercatat sebanyak 5.634 unit sepanjang delapan hari sebelum lebaran. Data harian memperlihatkan penurunan saat pemberlakuan truk nonsembako menyeberang.

Warsa, Ketua DPC Gapasdap cabang Bakauheni Lampung – Foto: Henk Widi

Sesuai data penurunan terjadi berturut-turut dari 1.731 unit truk menjadi 1.213, 834, 667, 511, 395, 192 hingga puncaknya saat H-1 jumlah truk menyeberang dari Merak hanya 91 unit.

Sebaliknya saat arus balik truk asal Sumatera terus meningkat dari semula 158 unit truk, 232, 205, 375, 856, 1.287, 1.836 unit hingga terakhir pada H+7 mencapai 2.095 unit atau total truk menyeberang 7.044 unit.

“Usai angkutan lebaran semua truk ekspedisi nonsembako semakin meningkat volumenya, berimbas produksi muatan kapal meningkat,” ujar Warsa.

Warsa menyebut kenaikan tersebut menjadi tren positif bagi sektor jasa penyeberangan. Sebab pelaku usaha mulai dari penyedia jasa hingga pengemudi truk akan mendapatkan keuntungan.

Sejumlah rumah makan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera juga akan kembali bergairah. Normalnya arus penyeberangan sekaligus bisa meningkatkan omzet bagi operator kapal.

Lihat juga...